[KyuJin Series] Boundless


[KyuJin Series] Cho Kyuhyun’s special birthday

“Boundless”

Cho Kyuhyun | Park Songjin | Choi Siwon | Lee Gyuwon

PS: The last chapter will be posted on Cho Kyuhyun’s birthday (3rd february)

“I didn’t mean to fall for her, but i did. And in my fear of losing her, i did just that.” 

“Kyuhyun-ah”

“Yes, baby?”

“Aku ingin satu lagi.”

“Apanya?”

“Anak.”

Kyuhyun berhenti mengunyah apel hasil kupasan Songjin. Oh, dia benar-benar menyesal baru bersikap semanis madu terhadap Songjin. Istrinya itu, berbicara; meminta anak, seolah bayi bisa dibeli di mini market saja.

Dari apel, Kyuhyun menyambar tabung keripik kentang milik Songjin. Dia menjejalkan tangan yang ukurannya dua kali lipat dan jelas-jelas tidak bisa masuk kedalam tabung tersebut seutuhnya, namun tetap memaksakan diri karena tiba-tiba saja merasa…. kesal.

“Aku ingin perempuan. Jadi aku memiliki anak berpasangan. Ada laki-laki, ada perempuan.”

Songjin tidak menyadari bahwa Kyuhyun nyaris tersedak mendengar komentar sederhananya. Sederhana bagi Songjin, belum tentu sederhana bagi Kyuhyun. Pria itu justru akan terlihat begitu merana jika topic ‘aku ingin satu lagi’ dalam konotasi, bayi, mulai Songjin angkat.

Topik ini sudah hilang selama beberapa bulan terakhir. Nyaris membusuk Kyuhyun pikir. Dia tidak menyangka bahwa Songjin tiba-tiba mengingatnya lagi. Dan membahasnya tepat dipagi hari yang cerah ketika mereka akan melakukan sarapan.

Sungguh, sebuah topic yang menarik. Ya, menarik minat makan yang dimaksud tentu saja.

“Bagaimana??”

“Apanya?” suara Kyuhyun meninggi secara otomatis, dan bukan Songjin tidak mengetahuinya. Maka Songjin ikut menaikkan suaranya, meski tidak setinggi Kyuhyun, “tentu saja anaknya!”

“Anaknya, siapa? Aku tidak ingin lagi!”

“Huh?”

Songjin berhenti mengupas apel. Kedua matanya yang besar; sangat besar— yang biasanya begitu Kyuhyun puja, mendadak membuat Kyuhyun merasa tidak nyaman.

Kyuhyun tahu, dia baru saja salah bicara. Bukan tidak ingin memiliki anak lagi, tapi— “Itu omong kosong.” Songjin tertawa sinis melanjutkan mengupas apel. Rasa gugupnya terlihat jelas pada pisau buah yang tidak setegas itu lagi ketika digunakan olehnya.

“Kau tahu betul bukan itu yang kumaksud.”

Alis Songjin bergerak cepat menjawab. Tanpa bersuara. Kyuhyun menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan-lahan. “Aku belum menginginkannya. Untuk sekarang.”

“Cepat atau lambat toh kita harus memilikinya lagi. Apa bedanya?” Songjin bicara tanpa memandang Kyuhyun. Tidak menyadari raut wajah Kyuhyun yang mengernyit heran.

Park Songjin ini sepertinya benar-benar sedang kerasukan.

“Kenapa harus?” tanya Kyuhyun segera. Memiringkan kepala bingung. Lalu Songjin mengangkat wajah untuk menatapnya “karena kita sama-sama tahu, kita tidak ingin Hyun Gi kesepian.”

“Oh itu alasanmu?”

“Yeah.”

“Tidak ada yang lebih bagus?”

Kening Songjin mengerut “maksudmu?”

Kyuhyun tertawa sejenak. Menggelengkan kepala seolah seluruh hal yang terjadi dipagi ini adalah kesalahan. Songjin tiba-tiba bisa terbangun diwaktu sama sepertinya pun sepertinya adalah sebuah kesalahan dipagi ini. Dihari ini.

Kyuhyun meletakkan tabung pringles setengah membanting ke atas meja kaca. Karenanya, suara denting sendok teh beradu dengan cangkir. Piring berisi potongan apel, beradu dengan meja dan Songjin, tentu saja nyaris melompat dikursinya.

“Pikirkan lagi saat kau ingin mengatakan sesuatu. Kau terlalu sering mengucapkan hal yang membuat orang sekitarmu merasa tidak nyaman, kau sadar? Kau pikir bayi dibuat dengan tepung terigu, gula dan telur?” ketus Kyuhyun marah. Rahangnya mengeras.

Dia tidak lagi menginginkan sarapan pagi dalam menu negara apapun. Tidak ingin lagi memakan apel, apalagi keripik kentang tolol itu. Dia hanya ingin menjauh dari Park Songjin untuk sesaat.

Sesaat saja.

— — — — —

Songjin diam ditempat— berdiri sambil memegang mini helicopter remote control milik Kyuhyun didepan pintu. Tadi, dia berencana untuk memainkannya dihalaman depan bersama Hyun Gi.

Belakangan ini Hyun Gi senang sekali melihat apapun yang melayang di udara. Jadi Songjin sedang sering-seringnya membuka youtube untuk memperlihatkan putranya pesawat yang akan lepas landas atau mendarat.

Memperlihatkan helicopter diudara, burung camar diatas perairan bersama kawanannya. Apapun itu. Tetapi rancana kali ini sepertinya harus ditunda sejenak. Ini terlihat penting.

Songjin tertegun melihat Gyuwon yang entah sejak kapan, entah mengapa dan entah bagaimana bisa berada didepan rumahnya— dengan wajah merah sembab penuh air mata.

Dia ingin bertanya apakah Gyuwon sedang baik-baik saja tetapi tolol namanya jika jawaban kondisi wanita tersebut jelas-jelas sedang dilihatnya saat ini juga.

Air mata, mata sembab, hidung memerah, jelas bukan definisi jawaban dari ‘aku baik-baik saja’ bukan?

Jadi alih-alih bertanya, Songjin segera memeluk Gyuwon erat. Menepuk punggungnya “eonni, ayo masuk. Disini dingin.”

— — — —

Seisi ruang santai penuh dengan suara tangisan Lee Gyuwon. Wanita itu jelas sedang memiliki persoalan tetapi bahkan sampai saat ini, Songjin belum bisa mengorek apapun.

Dia sudah mencoba tetapi Gyuwon tidak mau berbicara apapun padanya. Gyuwon hanya tersenyum padanya, lalu tak lama kemudian pasti menangis lagi. Terus seperti itu siklusnya. Siwon juga tidak bisa dihubungi.

Songjin menyeret Kyuhyun dari persembunyian— diruang kerja pria itu tentu saja, memangnya akan pergi kemana lagi pria itu— untuk menemui Gyuwon melihat kondisi wanita tersebut, lebih bagus jika Kyuhyun berhasil mencari tahu apa yang terjadi.

Kyuhyun dan Songjin menerka, Gyuwon dan Siwon baru saja bertengkar hebat. Ini terdengar sedikit aneh karena biasanya, keduanya adalah pasangan yang nyaris tidak tercium keributannya.

Mereka juga selalu terlihat menjadi yang paling ‘baik-baik saja’ ketika Songjin dan Kyuhyun tengah bertengkar hebat puluhan; ratusan kali. Ketika Kyuhyun menganggap Songjin akan melayangkan surat perceraian misalnya.

Saat Kyuhyun ribut mengenai Shim Changmin, atau Songjin resah pada Seohyun, Song Qian, atau gadis-gadis lain karena pada dasarnya, Songjin akan selalu meributkan dengan siapa Kyuhyun berinteraksi, apalagi jika gadis-gadis tersebut dirasa jauh lebih cantik, atau seksi, atau cerdas darinya— kondisi rumah tangga Gyuwon dan Siwon relative aman tanpa usikan dari sana sini.

Jadi tentu saja Kyuhyun merasa heran tentang apa yang terjadi kali ini.

“Minum dulu.” Kyuhyun memberikan segelas teh hangat. Tangan Gyuwon gemetar saat menerimanya. Mungkin karena berdiri terlalu lama diluar. terkena udara dingin dan mengapa wanita ini begitu tolol tidak mengetuk atau menekan bel?

Setelah Gyuwon menghabiskan separuh teh nya Kyuhyun baru menarik napas panjang “jadi,” katanya berhati-hati “apa yang terjadi??” tanyanya lembut— mengisi lagi gelas Gyuwon dengan teh panas.

Kemudian tangis pun pecah dimalam itu. Lagi. Dan Park Songjin jelas-jelas hanya menganggu Kyuhyun maupun Gyuwon jika memaksa untuk terus berada disana. Dia bahkan tidak tahu harus berbuat apa untuk menanangkan Gyuwon.

Maka ketika Kyuhyun sibuk menenangkan Gyuwon, Songjin segera membawa Hyun Gi yang duduk disamping kakinya, menonton Gyuwon juga dengan wajah terkejut, bingung mungkin sedikit panic. “Onty.” Hyun Gi berkata bernada ingin tahu banyak ditelinga Songjin saat Songjin menggendongnya membawa bocah itu ke kamar.

“Onty sedang tidak bisa bermain dengamu kali ini. Kau bermain dengan eomma saja ya.”

Ada perasaan mengganjal lain yang Songjin miliki sebelum benar-benar meninggalkan ruang santai. Berat rasanya meninggalkan Kyuhyun berdua saja bersama Gyuwon namun cepat-cepat Songjin mengusir pikiran tolol itu.

Sempat-sempatnya dia merasa cemburu disaat genting seperti saat ini.

— — — — —

Tepat pukul 2 dini hari, ketika Kyuhyun tak kunjung memasuki ruang tidur mereka, Songjin memutuskan untuk keluar, memeriksa.

Songjin terkejut, melihat Kyuhyun bersama Gyuwon masih saling bercakap-cakap serius. Gyuwon tidak lagi menangis. Dipundak wanita itu sudah tersamping sebuah selimut tebal.

Kedua tangan Gyuwon masih memeluk kencang cangkir teh. Asapnya masih mengepul yang artinya, teh itu baru saja dibuat atau dihangatkan. Melihat kondisi Gyuwon, rasanya wanita itu tidak mungkin berjalan sempoyongan ke dapur untuk melakukannya. Pasti Kyuhyun yang melakukannya.

“Aku mulai merasa khawatir bahwa selama ini tindakanku salah.” desah Gyuwon menggosok tengkuknya ragu.

“Salah?”

“Yeah.” Gyuwon menyesap tehnya “kau tidak terlihat semenyebalkan Siwon Oppa saat sedang marah, kurasa jika dulu aku tidak memutuskanmu kita akan baik-baik saja sampai saat ini. Benar tidak?”

Suara tawa Kyuhyun terdengar renyah meski lelah. Pria itu juga ikut menggosok tengkuk. Mungkin merasa canggung atau malu. Atau canggung dan malu disaat bersamaan, entahlah.

Tetapi Kyuhyun mengangguk!

Itulah! Kyuhyun mengangguk dan tertawa bersama dengan Gywuon. Seharusnya Songjin merasa lega karena pada akhirnya Gyuwon dapat tertawa lagi setelah yang dilakukannya satu hari ini hanyalah menangis.

Tetapi bukankah wajar untuk merasa terganggu, atau sedikit tidak terima, jika suamimu tampak manis dan mesra bersama mantan kekasihnya— lalu kau menyadari bahwa keberadaanmu disekitar mereka hanya akan menjadi pengganggu saja?

tentu saja begitu!

Dan karena sepotong pembicaraan itu, Songjin memutuskan untuk tidak memberitahu keduanya bahwa kini telah hampir pagi buta; mereka sama-sama lelah, butuh istirahat.

Songjin mundur beberapa langkah— menutup pintu kamarnya sangat perlahan hingga tak ada suara apapun yang terdengar. Tetapi Songjin sedikit yakin bahwa dia baru saja mendengar crash, meski sekitarnya masih tampak baik-baik saja.

Mungkin, itu adalah hatinya yang baru saja remuk menjadi beberapa keping potongan tetapi kembali lagi, Songjin segera membuang jauh-jauh perasaan khawatir tidak pada tempatnya itu.

Dia tidak bisa merasa egois jika pada kenyataannya, terdapat orang lain dalam kondisi mengenaskan sedang duduk diruang santainya, bahkan tidak bisa berdiri tegap karena terlalu lemas— menangis sejak beberapa jam lalu. ‘kan?

— — — — —

“Oppa—“

“Gyuwon ada disini, ‘kan??”

Songjin mengangguk takut-takut dan ragu kepada Siwon yang baru saja melompat dari kendaraannya. Siwon sepertinya sedang setengah mabuk? atau sedang mabuk? atau, baru sadar dari mabuk?

Kemeja pria itu tampak lusuh begitupun dengan rambutnya. Wajahnya lelah, tetapi matanya masih terbuka lebar terlihat awas. Sebelum Songjin membiarkan Siwon masuk ke dalam rumahnya, Songjin buru-buru mendorongnya kembali hingga merapat ke mobil.

“Ada apa? apa yang sedang terjadi?”

“Kau lihat sendiri apa yang sedang terjadi!” kata Siwon menunjuk dirinya sendiri.

Menggambarkan seberapa payah dirinya, akan sama saja payahnya dengan Gyuwon saat ini. Tetapi itu tidak menjelaskan apapun kepada Songjin dan wanita itu benar-benar haus akan rasa penasaran mengenai hal yang terjadi saat ini.

“Aku hanya melihatnya, aku masih tidak tahu apapun!!”

“Dia tidak menceritakannya padamu??”

Siwon tampak sedikit terkejut. Mendengarnya Songjin langsung mendengus. Percayalah, satu-satunya orang yang harus terkejut pada segala apapun kejadian kemarin serta hari ini, adalah dirinya. Dia ikut menyandarkan tubuh dibadan mobil Siwon sambil melipat tangan didada “dia menceritakannya kepada Kyuhyun.” bibir Songjin mengerucut tajam.

Mengingat apa yang terjadi malam tadi, dia menjadi semakin kesal saja terhadap Kyuhyun. Ditambah pembicaraan mereka yang berakhir entah bagaimana itu kemarin pagi. Segalanya sedang berantakan baik untuknya, juga Siwon.

Lagipula Songjin juga yakin bahwa Siwon tidak ingin melihat apa yang terjadi didalam sana sama sepertinya. “antarkan aku ke super market sebentar, ya?”

“Huh? Tapi Gyu—“

“Oppa!”

“Lalu bagaimana dengan Gyuwon?!”

Lalu bagaimana dengan Gyuwon bagaimana dengan Gyuwon. Apa semua orang harus memusatkan perhatian mereka kepada wanita itu saja? lee Gyuwon jelas tahu bagaimana menjadi pusat perhatian. Benar ‘kan?

Ingat ketika wanita itu sakit beberapa tahun silam? dan bahkan Choi Ki Ho ikut repot mengurusi rumah sakit dan segala perintilan medisnya? Jangan sampai saja Songjin benar-benar berpikir bahwa sakit keras adalah jalan cepat untuk membuat Kyuhyun berhenti sinis padanya, dan mengembalikan seluruh perhatian yang semestinya pria itu berikan untuknya, bukan kepada mantan kekasihnya.

“Yasudah!” Songjin mendengus. Menghentakkan kaki melompat menyambar kunci kendaraan milik Siwon. “Aku pinjam mobilmu sebentar. Aku tidak membutuhkan bantuan Kyuhyun, atau kau untuk membeli sekotak strawberry dan telur.”

“Yaa!”

“Pergi sana!” Songjin memberi sikutan kencang dipinggang Siwon ketika Siwon mencoba mengambil kunci mobilnya. “Jangan pergi sendiri.”

Songjin mendengus lagi. Jangan pergi sendiri? Itu juga larangan yang kerap Kyuhyun katakan. Seolah dirinya adalah balita. Sejak kapan ada larangan wanita 26 tahun tidak boleh mengemudi sendiri menuju supermarket? Hah, lucu sekali.

— — — — —

Jjimjilbang.

Pada akhirnya mereka menuju jjimjilbang bersama. Tempat itu adalah yang pertama mereka sama-sama lihat setelah memutari jalan raya karena masing-masing mereka lupa pada tujuan.

Songjin jelas melupakan strawberry dan telur kotaknya. Sedangkan Siwon tidak sedang menyimpan isi kepalanya saat ini. Mereka sama kacaunya meski dalam taraf berbeda.

“Aku menawarinya IVF. Dia menolak. Marah. Mengamuk dan pergi dari rumah.” desah Siwon. “Tunggu— ada lagi. Dia melempar apapun disekitarnya termasuk ponselku ke dalam pitcher.”

Ah, itu menjelaskan mengapa kemarin Siwon sama sekali tidak bisa dihubungi, dan kini ponsel pria itu terlihat mengilat baru. “IVF?”

In Vitro Fertilisation. Bayi tabung. Pembuahan diluar Rahim. Aku juga juga berpikir bahwa itu harus dilakukan pada Rahim wanita lain. Karena kau tahu seperti apa penolakan yang ada pada tubuh rahim Gyuwon.”

Siwon menatap hampa lantai dipijakan kakinya. Sesungguhnya Songjin dapat menilai, seberapa buruk kondisi pria dihadapannya. Dia tidak tahu benar seperti apa Gyuwon saat ini karena sejak pagi tadi dia menolak untuk melihatnya.

Saat terpaksa harus melewati ruangan dimana terdapat Gyuwon bersama Kyuhyun pun Songjin sebisa mungkin mempercepat tujuannya berada disana lalu pergi saat itu juga.

Dia mencoba, untuk tidak berkomentar apapun, termasuk kedekatan dua makhluk tersebut. Tetapi jika itu benar-benar harus terjadi, seperti pagi tadi saat dirinya baru saja terbangun dan berjalan menuju dapur, lalu menemukan Hyun Gi sedang mencicipi pancake pemberian Gyuwon, lalu Gyuwon mengucapkan selamat pagi padanya, maka Songjin harus mempertontonkan kepada semua orang bahwa dirinya sedang dalam kondisi sempurna.

Songjin sendiri nyaris tercekik berada di dalam rumahnya— dan puncaknya adalah pagi ini. Seharian ini dirinya nyaris tidak berada didalam rumah. Halaman belakang adalah pelarian pada jam-jam awal.

Akhirnya dia memiliki alasan untuk menengok bunga mawar hasil tanamnya sendiri beberapa waktu silam. Lalu halaman depan, adalah pelarian sementara karena Kyuhyun dan Hyun Gi bermain helicopter cemote control disana.

Hyun Gi pun sepertinya tidak membutuhkannya. Lagipula siapa yang membutuhkan seorang ibu tolol— yang bahkan memasak telur saja hangus. Jelas, kehadiran Lee Gyuwon seolah oasis ditengah gurun pasir.

“Aku tidak bermaksud untuk menyinggungnya. Demi tuhan.” tukas Siwon mengangkat sebutir telur rebus tinggi-tinggi lalu meremasnya menyalurkan kekesalan “aku hanya— begini maksudku, Songjin, dengar, apa menurutmu salah jika aku mencoba mencari jalan tengah pada hal yang sama-sama kami inginkan, dan cara itu bukan hal aneh atau tabu. Jutaan orang sudah melakukannya. Kemungkinan berhasil juga besar, jadi kenapa tidak? Kenapa dia tidak memahami maksudku?!”

Siwon menggeram. Wajah pria itu memerah selagi Songjin menikmati kekesalan pria itu dengan menyeruput sikhye nya melalui sedotan. Kedua kaki Songjin diluruskan. Hanya matanya saja yang bergerak kesana kemari mengikuti Kemana arah tangan Siwon bergerak saat menceritakan betapa keras kepala istrinya kemarin.

“Kenapa dia begitu keras kepala?”

“Dia ingin merasakan perasaan seperti wanita lainnya. Kau jelas-jelas akan membuat pengalaman mengandung yang nyaris tidak mungkin didapatkannya menjadi semakin tidak mungkin saja. Mengandung itu hal wajar yang diinginkan oleh seluruh wanita, kau tidak tahu ya??”

Siwon memandang Songjin datar, “aku-tentu-saja-tahu!” geramnya memukul telur rebus tepat diatas kepala Songjin hingga Songjin meringis seketika. “tapi mari kita berkata jujur, kemungkinan itu bahkan tidak lebih dari lima persen. Dan yang paling mengerikan adalah nyawa yang ditaruhkan—“

“Semua wanita mempertaruhkan nyawa mereka saat melahirkan, kau juga tidak tahu?” Siwon merasa ingin meretakkan seluruh telur rebus mereka pada kepala Songjin saat ini. Wanita ini benar-benar!

“Aku nyaris mati saat melahirkan Hyun Gi, tapi aku tahu bahwa itu akan terjadi dan aku mengambil risikonya karena aku tahu semua hal ada harganya. Aku tidak mungkin meminta pelangi tanpa membiarkan hujan turun deras, ‘kan?”

Siwon lantas tersenyum sinis menanggapi, “ya, itu karena kau tidak mengomunikasikannya kepada Kyuhyun. Kau sengaja memberitahukannya beberapa minggu sebelum tanggal prediksi kelahiran Hyun Gi. Saat itu kau bukan hanya membunuh Kyuhyun tapi seluruh orang disekitarmu, kau tidak tahu? Ibumu yang sering kau ajak berkelahi itu bahkan tidak meninggalkan rumah sakit sejengkal pun saat kau koma.”

“HA-HA” Songin memaksakan tawanya “lucu sekali.”

“wah, jadi menurutmu wajah seperi ini terlihat sedang membuat lelucon sampai terlihat lucu?” Siwon merunduk mendekatkan wajahnya pada Songjin sekonyong membuat Songjin menggeser tubuhnya. “aish, kau bahkan masih memiliki aroma alcohol.”

Siwon membuang napas kencang “aku tidak tahu harus melakukan apa saat Gyuwon pergi.” Aku Siwon gelisah. Dia hampir mengambil telur rebus lagi namun Songjin memberikan sikhye nya kepada Siwon. Lalu tanpa berpikir panjang Siwon menyedot habis minuman berbahan dasar beras tersebut hingga tandas.

“— Tanpanya semalaman saja aku hampir tidak bisa tidur. Aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar. Aku menggantungkan hidupku padanya, Songjin. Jadi, menurutmu apa yang terjadi jika aku keras kepala membiarkannya mengandung anakku dengan kemungkinan Sembilan puluh lima persen dia akan mati? Aku juga ingin memiliki anak Songjin. Sumpah. Siapa yang tidak? Aku rela menukar segala apa yang kumiliki untuk mendapatkannya. Tapi jika harus menukarnya dengan Gyuwon—” Siwon terdiam. Memandangi lantai karpet begitu hampa “kurasa lebih baik aku yang mati.”

— — — — —

Dari depan pagar kediaman Kyuhyun dan Songjin— yang mana sejujurnya memiliki jarak cukup melelahkan jika harus dihabiskan dengan berjalan kaki, namun syukurlah mereka tidak sedang berjalan kaki, Siwon sudah melihat Kyuhyun berdiri.

Kyuhyun bersandar pada pintu kayu yang memiliki tinggi dua kali lipat dari tingginya. Kedua tangan pria itu disembunyikan didalam saku celana panjang kain nya. Secara keseluruhan, Kyuhyun terlihat biasa saja, sampai Siwon memarkir mobilnya, tepat beberapa meter didepan tangga pintu masuk.

Satu-satunya penerangan yang meyakinkan Siwon bahwa pemilik wajah masam tersebut adalah Cho Kyuhyun, menandakan bahwa tubuh tinggi disana adalah adiknya, dan bukan hantu adalah lampu gantung besar bercahaya kuning keemasan diatas Kyuhyun.

Siwon sempat terkekeh pada wajah kecut sang adik, dia merasa terhibur disambut dengan ekspresi mengenaskan seolah meningatkan kembali dirinya bahwa wajah seperti itu ialah ekspresi wajah terakhir kali yang Gyuwon berikan padanya.

Dia lalu menoleh pada Songjin, segera mengecek keberadaan titik focus Kyuhyun sedari tadi, lantas tertawa kencang mendapati Songjin sedang sibuk dengan ponselnya.

Atau, pura-pura sibuk mungkin??

“Kalian bertengkar rupanya.” tawa Siwon menggelegar didalam kendaraannya sendiri. Dia mulai mematikan radio, ac, serta perangkat lainnya sampai Songjin, syukurlah pada akhirnya wanita itu menanggapi perkataannya.

“Dia yang memulai.” Songjin meringis canggung. “Jadi strawberry dan telur kotak hanya omong kosong.”

“Aku benar-benar membutuhkannya karena stock dilemari pendingin sudah habis.” dengus Songjin, kemudian tak berapa lama melompat dari kursinya, menggeser tubuh mengarah pada Siwon penuh “hey, bukankah kita belum membeli straw—“

“Lupakan saja, Park Songjin.” Siwon menyentil hidung Songjin. “Kau sudah memakan banyak sekali telur rebus dan sikhye tadi. Aku tidak ingin berkelahi dengan adikku sendiri. lagipula aku harus berdamai dengan istriku.”

Bibir Songjin mengerucut. Wajahnya menekuk kusut segera. Siwon semakin memperpanjang durasi tawanya sadar Songjin baru saja merasa takut pada wajah Kyuhyun yang sebenarnya tidak terlihat menyeramkan baginya.

Tidak menyeramkan baginya, belum tentu bagi Songjin.

“Kenapa dia tidak tersenyum, daripada memberengut, itu membuatnya terlihat lebih tua daripada usia seharusnya.” Komentar Songjin melirik Kyuhyun kemudian cepat-cepat segera kembali pada Siwon lagi. “dia seperti ingin memakanku.”

Siwon menganggukan kepala setuju “Kalau yang pergi adalah istriku, Sejak pagi hari, tidak memberi kabar, dan baru kembali pada pukul Sembilan malam, Park Songjin, percayalah, aku benar-benar akan memborgolnya di pohon maple tiga hari berturut-turut.”

Tawa terbahak Siwon terus dilakukannya hingga dirinya dan Songjin keluar dari mobil, berjalan menuju pintu masuk, dan berhadapan dengan Kyuhyun dari beberapa meter jauhnya.

Kyuhyun lagi-lagi menyambutnya dengan…. dua alis bertautan. Siwon mengenal mata tajam pria itu. Kyuhyun memilikinya sejak lahir dan biasanya, Kyuhyun memperlihatkannya ketika sedang merasa terancam.

“Hadapi permasalahanmu adik ipar~” cemooh Siwon berbisik ditelinga Songjin, kemudian meninggalkannya sendiri saat mereka sudah sangat dekat pada Kyuhyun.

Sapaan hallo pemberian Siwon kepada Kyuhyun sebelum dirinya masuk kedalam pun diabaikan oleh pemuda yang semakin dekat jarak Songjin, semakin masam pula raut wajahnya.

Sampai dihadapan Kyuhyun Songjin memberikan cengiran terlebar sepanjang hidupnya. Alih alih meminta maaf karena mungkin Kyuhyun meski bercengkrama bersama mantan kekasih, pada akhirnya Kyuhyun ingat bahwa dirinya telah menikah dan istrinya hilang sejak pagi tadi tidak tahu kemana— Songjin memilih untuk melambaikan tangan kaku bagai robot.

— — — — —

“Hai? Apa itu hai?”

Songjin menyengir lebar, “hai itu sapaan yan—“

“Aku tahu definisi hai.” dengus Kyuhyun cepat. “Tapi itu yang kau pilih untuk kau katakan padaku setelah menghilang sejak pagi? tidak memberi kabar apapun, pulang dimalam hari bersama lelaki, tertawa senang seolah kalian baru saja melakukan kencan yang berkesan?”

Songjin mengerjabkan mata memandangi Kyuhyun kosong. Dia terkejut betapa Kyuhyun menjadi begitu bodoh seolah tidak melihat dengan mata kepala sendiri bahwa toh pada akhirnya dia pulang.

Meski di malam hari. Meski bersama lelak— tunggu “aku pergi dengan Siwon Oppa. Dia kakakmu.” Songjin baru saja mencium aroma lain dari tuduhan perselingkuhan atau apa— yang jelas-jelas akan Kyuhyun layangkan padanya.

Songjin segera berjalan masuk menaiki undakan tangga, melewati lorong dan ruang santai. Dia berjalan cepat menuju dapur dan berjalan semakin cepat sadar Kyuhyun membuntutinya. Langkah pria itu besar-besar menghentak menggambarkan betul betapa dirinya sedang marah.

Pada Songjin. Lagi.

“Kau sudah makan?” Songjin menoleh pada Kyuhyun memilih untuk tidak menanggapi kekesalan pria itu serta pendelikan tajam untuknya. Serta raut wajah mengerikan. Serta tumpukan omelan yang pasti sudah mendesak diujung lidah Kyuhyun.

“Aku membeli beberapa makanan tadi. Ada Jjajangmyeon, duck mandu, tteokbokki, dan tofu jigae. Kau mau yang mana?”

Songjin bergerak kesana kemari mengambil piring serta mengkuk dari lemari disisi kirinya. Kanan nya. Berjinjit mengambil mangkuk dilemari bagian paling atas. Dan Kyuhyun bahkan hanya diam ditempatnya tanpa memiliki keinginan membantu.

“Dari mana saja?”

“Jjimjilbang.” seru Songjin tersenyum lebar meski senyumannya tak Kyuhyun tanggapi sama sekali. Pria itu malah semakin mengerutkan wajah sembari berjalan mendekatinya, “Jjimjilbang?!” dan memekik tidak terima?

HAH, keributan lainnya. Yang benar saja!

“Kau mendatangi tempat seperti itu? bersama Siwon Hyung?”

“Yeah.”

“BERDUA?”

“Tadinya aku ingin mengajakmu, tapi kau sedang sibuk dengan Gyuwon eonni jadi aku—“

Songjin melompat ketika Kyuhyun menggebrak meja dapur. Dia segera mengambil kuda kuda setelah mundur tiga langkah banyaknya menjauhi Kyuhyun. Dia berencana untuk berlari menuju— entah menuju kemana saja asal tidak berada dekat dengan Kyuhyun. Jantungnya berdegup tak menentu. Kyuhyun terlihat menyeramkan, dan ini bukan sebuah kabar baik untuknya.

“PARK — SONGJIN!” Mata Kyuhyun menyalang berkilat. Rahangnya terkatup sudah bergemeretak. Tanda bahwa dirinya betul-betul diambang kemarahan.

Songjin tidak ingat benar kapan terakhir kali Kyuhyun terlihat semarah ini padanya. Bahkan percakapan kemarin pagi yang berakhir tidak menyenangkan pun tidak terasa semencekam ini.

Songjin mengigiti bibirnya. Dia tidak benar-benar berani memandang kembali Kyuhyun jadi alih-alih memerhatikan mata Kyuhyun yang menyalang, Songjin sesekali melirik vas bunga. Atau coffee maker dibelakang Kyuhyun. Atau toaster. Atau—

“Aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak menemukanmu diseluruh ruangan ditempat ini. Kau pergi tanpa membawa ponsel. Aku tidak tahu harus menghubungimu kemana. Aku tidak tahu kau dimana. Apa kau baik-baik saja atau tidak, tapi ternyata kekhawatiranku berakhir percuma. Kau bersenang-senang di pemandian umum lalu berkencan setelahnya dan kembali membawa setumpuk makanan yang kau pikir bisa membuat aku merasa baik-baik saja?”

Songjin termenung sejenak sebelum kedua bahunya menegang, “aku berkencan?”

“Aku perlu menjelaskan lagi kegiatan macam apa yang kalian lakukan tadi, serupa remaja dimabuk cinta?”

Songjin megerutkan keningnya. “Apa itu tidak keterlaluan namanya? dia kakakmu!”

“Dia juga lelaki! aku berhak merasa tidak suka pada lelaki manapun yang membawa kabur pasanganku!”

“Oh baiklah.” Songjin melipat tangan mengangkat dagu sejengkal lebih tinggi “aku bisa membuktikan bahwa kau sedang menuduh kakak mu berselingkuh denganku, tapi semestinya, bukankah aku yang melakukan hal itu?”

Kini Songjin ikut merapatkan rahang menjadi kaku. Bayangan meremas Kyuhyun menjadi gulungan paling kecil sudah terjadi sejadi jadinya didalam kepala Songjin. “Setidaknya aku tidak pernah berkencan dengan kakakmu sebelum aku menikah denganmu, jadi tuduhan seperti itu sebaiknya kau pikirkan lagi masak-masak karena aku bisa memutar menjadikanmu tertuduh saat ini. Kyuhyun-ah—“ Songjin menurunkan nada bicaranya lalu menarik napas panjang-panjang.

“aku berusaha untuk merasa nyaman berada di dalam rumahku sendiri sejak kemarin pagi, setelah kau juga membentakku hanya karena aku berkata aku menginginkan bayi. Lalu aku berusaha membuat diriku nyaman lagi, saat mantan pacarmu datang, lalu kau menghabiskan waktu semalaman penuh berdua dengannya saja— dan aku masih harus berusaha nyaman berada dirumahku sendiri, saat aku sadar bahwa bahkan anakku merasa nyaman bersama dengan mantan pacarmu. Jadi kau pikir apalagi yang bisa kulakukan selain pergi meninggalkan kalian dan membuang jauh-jauh pikiran tolol bahwa suamiku baru saja menyesal menikah dengan wanita yang bahkan tidak lebih baik dari wanita sebelumnya?”

Tangis Songjin pecah. Hidung serta pipinya segera memerah pada awal air matanya satu persatu terjatuh. kedua tangganya meremas mangkuk yang diambil dari lemari diatas kepalanya.

“Aku tahu kau akan berkata ‘yang kau rasakan itu tidak berdasar, Songjin. Dia sedang bersedih, dan aku hanya mengiburnya’ saat aku mulai menunjukkan rasa tidak sukaku, jadi aku tidak ingin kau semakin marah padaku, setelah aku meminta seorang bayi lagi, dan malah memusuhiku. Aku tahu. Aku tidak ingin kau menjadi semakin kesal padaku.”  

Songjin mulai merasa kesulitan untuk bernapas dengan benar. Air mata sudah mengganggu penglihatannya. Mulai akan menganggu pernapasannya dan sebaiknya, dirinya tidak berada ditempat ini jauh lebih lama. Dia tidak ingin terlihat semakin menyedihkan dihadapan Kyuhyun bukan?

Maka Songjin menghirup oksigen sebanyak mungkin sambil memejamkan mata selama beberapa saat. Dia berjalan, memberikan mangkuk yang sejak tadi dipegangnya kepada Kyuhyun “makan dulu beberapa sendok. Mungkin kau sedang lapar karena itu sejak tadi kau memandangiku seperti ingin menelanku bulat-bulat.”

Dan meski candanya penuh paksaan, dilakukan masih sambil menangis, toh Songjin tertawa canggung diakhir. Meksi dengan begitu dia meninggalkan Kyuhyun tercengang begitu saja.

192 thoughts on “[KyuJin Series] Boundless

  1. Kok ikut nangis aku ya,, ngerasa banget aq perasaannya songjin. Mereka berdua emang pasangan pencemburu yg memiliki gengsi hahaha…

  2. Haaah Saya sedih liat Songjin begitu. Kyuhyun keterlaluan deh. Kalo mereka mau terbuka dan ga gengsi, masalah begini mesti ga terjadi. Tapi itulah plus nya, jadi kuat feel mereka. Nice. Thanks Galuh Unnie:-)

  3. Yaa gitu deh klo ga kode ga bakal peka. Dasar kyuhyun bisanya marah2 aja. Mereka itu masing2 pny gengsi yg tinggi. Kyuhyunnya terlalu asik sama mantan pacar yg lagi bersedih jadi lupa deh sma istrinya yg lagi cemburu berat

  4. selalu ga pernah ga berantem deh yaa.. tapi emang sih siapa yang ngga cemburu kalo pasangannya ngobrol sama mantan di rumah sendiri.. kaget juga kalo gyuwon sama siwon bisa berantem, aku pikir mereka selalu harmonis2 aja kan sama2 dewasanya.. dan songjin klo habis kabur gtu selalu ngomong hai kayak dlu pas ga pulang beli ponsel buat kyu.. tapi kayaknya songjin disini berubah dari yang dulu2 deh hehe aku nantikan lagi perubahan songjin hehehe

  5. Pertengkaran pertama mrka diawali dgn songjin,,,dy meminta anak semudah itu sam kyu,,,apa dy tdk berpikir mngkin kyu trauma ttg proses melahirkan songjin,,,meski kyu salah krna hanya bs mrh2 pada songjin,,,pi setidaknya kyu sdar bhwa songjin tdk ada dsekitarnya,,meski ga peka trhadap perasaan songjin,kyu peka terhadap khadiran songjin……

  6. Huaa, Songjin ngeluarin unek2nya bikin hatiku ikutan ngilu -_-
    Gengsi mereka yg selalu tinggi, giliran ngungkapin keselnya jadi sampe gini…

    Ohh iya eon, maaf ga komen di ff sebelum2nya, baru sempet komen disini, saya lagi baca ngebut ff disini yg belum ku baca karna notif updatean ff Kyujin ga masuk email, yg saya ceritain di twitter eon ㅠㅠㅠ

  7. Di ulang tahun Kyuhyun yg ini keluarga mereka juga menemui masalah. ya ampun baca FF di sini jada kebawa perasaan deh, soalnya seolah-olah kita membaca cerita yg nyata.

  8. Nah lo kyu…gimana sekarang setelah songjin memutar balikkan tuduhan yang kau tuduhkan padanya kini menyerangmu ? Setidaknya kecemburuan songjin beralasan sedangkan kecemburuanmu tak beralasan sama sekali bahkan terdengar konyol,menuduh songjin kencan dengan siwon kakakmu sendiri…

  9. Waaa… Ikuatan baper pas baca yang bagian kyujin bertengkar
    Kaya ikut ngerasain apa yang songjin rasain..
    Ijin baca 🙂

  10. Kyuhyun tuh yaa ga pernah peka. Dua2nya sama2 cemburuan. Gak kyuhyun, gak songjin. Tapi songjin berusaha buat bersikap baik2 aja, tapi kyuhyun yg selalu bikin songjin sedih..
    Mendadak sedih bercampur sebel baca part ini huhuhu 😦

  11. Aduhhh yaampun kyuhyun peka dong sama istri sendiri, jadi ikut sedih pas songjin ngutarain semua kekeselannya.
    Kyuhyun juga sihh selain gak peka, main nuduh dan ngomel gitu aja, kali kali kek kalo lagi kesel bersikap lembut

  12. ampuunn, mereka itu dikit2 bertengkar terus yaa.. ada aja permasalahannya, Kyuhyunnn sihhh harusnya peka dong klo Songjin itu sakit hati ngeliat kamu sama Gyuwon berduaan truss.. huh *gigitKyuhyun

  13. kyuhyun sih gitu banget sm songjin sampai melupakannya ketika dia ada dan mencarinya ketika tidak ada, walaupun gyuwon lg sedih tp setidaknya menghibur gyuwon tahu aturan’kan gak sampai selama itu dan melupakan songjin….

  14. keegoisan kyuh bener2 udh diatas rata2 parah ama kknya ajh dia cemburu wew banget … yh ela cuma gara2 tuh doang mereka bertengkar abis2an … kecip kan kyuh digituuin ama songjin makan tuh keluh kesah songjinn … mau nangis ih oas songjin udh menumpahkan keluh kesahnya …

  15. entah kenapa sy merasa songjin benar di sini, meskipun dia meningglkan rmh dan tdk memberikan kbr.

    wanita itu perasa kyu, jadi pekalah sedikit kyu…

  16. Banyak laki” bahkan perempuan yg mengatakan bahwa perempuan itu rumit. Dari ff ini aku jadi berfikir bahwa sebenarnya wanita itu tdk serumit yg mereka pikirkan-bahkan mereka bayangkan. Menurutku perempuan terlihat seperti itu karena perempuan memiliki tingkat kepekaan dan feel yg lebih dr pada laki”. Hanya saja yg menjadi permasalahan besar adalah banyak perempuan yg lebih memilih- bahkan lebih suka memendamnya dan menyimpannya baik” drpd mengutarakannya. Kalau saja perempuan mau mengutarakannya mungkin predikat “wanita itu rumit” akan dipikir” lagi bagi si pelaku yg akan memberi opini tsb.

  17. Kok hati gw ikutan ngilu siih 😂😂😭😭 Tapi sikyuhyun juga kebangetan.. Iyasih gyuwon sedih tapi bukan berarti dia nelantarin Songjin. Giliran SongJin dibawa pergi sama orang lain ngamuk.. Ditinggalin SongJin bener bener baru tau rasa lho vil 😂😂

  18. 2 pasangan yang lagi pada bertengkar disebabkan oleh seorang bayi… si pria2nya pada gak mau punya bayi karna terlalu resiko untuk para wanitanya…

  19. Mungkin gara2 kalimat gyuwon yg bilang klo dia ga pisah sama kyuhyun semuanya bakal baik2 aja. Dan reaksi kyuhyun cman ketawa aja .. itu yg buat songjin jadi punya pikiran kemana2

  20. Ish kan mewek aku jdinya 😂😂,, kasian songjin,, kyuhyun juga jdi orng kok gak peka sih, udh tau dia punya istri malah dia trlalu asik sma prempuan lain, istrinya dibiarin aja,, egois bgt, dia posesive tapi dia nda sadar apa yg dia lakuin nykitin si songjin,, y peduli sih boleh tapi jangan sampe nelantarin gtu juga,, seolah” dunia hnya milik dia sma gyuwon

  21. Pasti nyesek kalo jadi Songjin ….. berasa orang asing di rumah sendiri.
    Nyesek juga jadi kyuhyun, setelah tau klo istrinya lebih memilih pergi ke pemandian umum bareng kakaknya di bandingkan dgn dirinya .

    Salahnya itu , kalian berdua sama gak pekanya 😤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s