[KyuJin Series] Worddiction — Abience 1


[KyuJin Series] Worddiction

Abience

Cho Kyuhyun | Park Songjin 

 

“CHO KYU-HYUUUUUUN!!!!”

Percayalah, jeritan mengerikan itu terdengar jelas hingga ke ruang makan yang berada dua lantai dibawah kamar pemuda jangkung tersebut. Namun meski hampir semua orang mendengarnya, kegiatan menata meja makan, membaca koran serta permainan basket di halaman belakang masih terus berlanjut hikmat.

Kericuhan terjadi hanya tepat dikamar dengan dominasi warna hitam serta biru tua disana. Kamar milik Cho Kyuhyun. Pria itu tidur diatas ranjang yang bergejolak karena pijakan sengaja perbuatan seorang gadis tolol.

Songjin.

Gadis itu bahkan entah sadar atau tidak, telah menumpahkan remah keripik kentangnya diatas ranjang Kyuhyun. Pria malang itu hanya terombang ambing diatasnya sambil mendengkur. Tak peduli pada apapun kecuali tidur– yang harus didapatkannya setelah jam tidur miliknya dua pekan ini benar-benar mengerikan.

Namun mendadak Park Songjin datang mengacaukan semuanya. Menghancurkan kedamaian sesaat– surga Cho Kyuhyun dengan teriakan, dorongan, pukulan, terkadang kelitikan yang tak dihiraukan Kyuhyun. Dia terlalu lelah untuk menanggapi Songjin saat ini.

Seharusnya seseorang dirumahnya mengatakan itu pada Songjin sebelum gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya jika mereka benar-benar peduli padanya.

“KYUHYUN-AH! AYOOO BANGUUUN!” jerit Songjin kembali “EVERLAND MEMILIKI WAHANA BARUU AYOOO KITAAA KESANAAAA”

Kyuhyun menggeram dalam tidurnya. Tunggu– dia tidak sedang tertidur, lagi. Sesungguhnya kini kesadarannya telah kembali 1000%. Dia tetap memejamkan mata hanya untuk mencoba tidur kembali, mengingat betapa lelah dirinya kini. Namun gadis tengik ini sepertinya tidak akan bisa diajak bekerja sama.

Kyuhyun merasakan tubuhnya mendapat dorongan kencang. Ia menggelinding. Masih diatas ranjangnya yang lebar tapi tetap saja, kekuatan gadis itu bukan sekedar omong kosong, kau tahu?

“Kyuhyun-ah!” Songjin berbisik “kau sudah bangun ‘kan?” tanya gadis itu lugu. Kyuhyun dapat merasakan bibir Songjin menempel di telinganya “ada wahana baru di everland!” ulangnya bernada serius. “kita harus kesana untuk mencoba!”

Sialan.

Meski mereka tidak mendatangi taman bermain itu hari ini, wahana baru itu akan tetap berada disana hingga taman bermain tersebut bangkrut dan ditutup untuk selamanya. Dan mengingat kemungkinan hal tersebut terjadi dalam kurun waktu dekat sangatlah kecil, Kyuhyun benar-benar merasa bahwa sikap Songjin teramat berlebihan.

Dan coba pikirkan ini: jika itu adalah benar adalah wahana baru, bukankah seperti akan ada banyak sekali orang yang juga ingin mencobanya. Itu artinya taman bermain sekarang pasti– PASTI, dalam keadaan super-mega-ramai. Jadi kenapa harus berdesakan dengan banyak orang jika wahana itu masih bisa dinikmati nanti?

“Kyuhyun-ah!”

Kyuhyun bergeming. Mengatur pernapasannya jauh lebih baik, menyeimbangkan dengan degup jantungnya. Bukan, ini bukan karena posisinya yang sedang sangat-terlalu-sangat berdekatan dengan gadis itu hingga rasanya, ia bisa saja jika ingin- catat, jika ingin– memutar tubuh lalu memeluk gadis itu erat untuk membungkamnya.

Bukan.

Ini bukan jenis degup jantung seperti itu. Ini lebih pada perasaan amarah. Ya, Kyuhyun yakin sekali akan hal tersebut. Kepalanya terasa berdenyut seperti akan pecah tiap kali mendengar jeritan Songjin pagi ini. Dia berhak untuk marah. Dia berhak.

Jadi alih-alih menanggapi keributan Songjin, Kyuhyun membuka mata lalu menyibakkan selimut secepat mungkin dan berdiri. Matanya merah, mendelik pada Songjin. Gadis itu sendiri sepertinya terkejut pada respon Kyuhyun– meski untuk sesaat saja, karena setelah itu ia memberikan senyum.

“Keripik kentang?” Tawarnya lugu berlebihan.

Kyuhyun mendengus. Gadis itu menawarinya keripik kentang? Yang benar saja, apa wajahnya ini tidak terlihat seperti orang yang sedang marah besar?

“Turun dari ranjangku Songjin.”

“Hey, Kyu, kau tahu wahana yang dulu sempat kita lihat flayer–“

“Sekarang!”

“Everland memiliki wahana yang–“

“SEKARANG!”

Songjin terlonjak. Ia segera membungkam mulutnya rapat. Matanya mengikuti kemana arah mata Kyuhyun mengarah. Kyuhyun jelas-jelas memelototinya dan itu terlihat luar biasa menyeramkan. Kyuhyun terlihat seperti Ibunya saat Songjin mulai masuk ke dapur lalu mengacak tempat keramat itu, atau tanpa sengaja, Songjin menginjak mawar dihalaman depan pintu masuk.

Kyuhyun mendekatinya. Membawa dirinya turun. Tunggu– ralat. Menyeretnya turun, tergesa lalu melemparkannya sembarang. Kyuhyun mendengus saat melihat ranjangnya dipenuhi remah keripik kentang.

Songjin melihatnya juga. Bibirnya membulat membentuk ‘O’ besar menyuarakan “Oops” kecil yang Kyuhyun dengar lalu malah membuat pria itu semakin kesal bukan main.

“LIHAT PERBUATANMU!” katanya kencang. Menunjuk ranjangnya; berantakan, kotor, tampak mengerikan. Seketika Songjin memiliki rasa bersalah yang besar. Sadar karena ulahnyalah tempat tidur itu jadi terlihat mengerikan. Dan sepertinya, Kyuhyun sedang sangat lelah.

Apa sudah sangat terlambat untuk menyadari hal tersebut?

“APA YANG KAU LAKUKAN DIKAMAR LELAKI– DI PAGI HARI, SEENAKNYA MASUK, MELOMPAT-LOMPAT SEPERTI KELINCI DIATAS RANJANGNYA DAN BERTERIAK SEOLAH KAU BERADA DI HUTAN. DIMANA SOPAN SANTUNMU?”

“Aaa–“ Telunjuk Songjin sempat mengacung. Bermaksud ingin memberi interupsi serius namun kemudian dibatalkannya. Songjin lantas memberi cengiran seraya menyenggol lengan Kyuhyun, “ayolah. Aku selalu melakukannya. Kau juga. Apa yang perlu dipermasalahkan. Jadi hey, coba kau pikirkan. Wahana baru ditaman bermain itu pasti sangat seru! kudengar ketinggian roller coasternya sampai–“

“AKU TIDAK PEDULI DENGAN TAMAN BERMAIN TOLOL YANG KAU MAKSUD.” erang Kyuhyun segera. “AKU BERTANYA APA KAU MEMILIKI SOPAN SANTUN– KARENA KAU BARU SAJA MASUK BEGITU SAJA KE KAMAR SEORANG LELAKI. MENAIKI RANJANGNYA, LALU BERTERIAK-TERIAK! APA KAU PIKIR YANG KAU LAKUKAN ADALAH YANG BENAR? OH KITA SUDAH BIASA MELAKUKANNYA? KAU? KURASA ITU KAU. AKU HAMPIR TIDAK PERNAH MELAKUKANNYA. AKU MEMILIKI KEHIDUPAN, JADI RASANYA SEDIKIT TIDAK MUNGKIN AKU BERADA DIDALAM KAMAR SEORANG GADIS DI PAGI HARI MELOMPAT DIATAS RANJANGNYA DAN MENUMPAHKAN BANYAK POTONGAN KERIPIK KENTANG DIATASNYA!”

Baiklah.

Kyuhyun benar-benar kelelahan dan keputusan untuk memberi respond tidak serius adalah hal yang salah. Kyuhyun sedang tidak bisa diberi gurauan dalam bentuk apapun, Songjin baru menyadarinya. Kyuhyun malah terlihat semakin marah padanya. Ia segera mendengus sambil mencebikkan bibir. Memasukan tangan kanan ke dalam tabung keripik kentang miliknya.

“Aku bisa melakukan apapun, kita akan segera menikah, kau ingat?”

“Kita bahkan belum resmi bertunangan. Aku belum melamarmu. Hanya orang tuaku dan orang tuamu yang sepertinya terlalu tertarik dengan urusan perjodohan tengik keparat ini.”

Kunyahan Songjin tidak bergerak cepat seperti tadi. Seperti ada tamparan kencang yang menghantam wajahnya. Songjin ingat, pernikahan menyenangkan itu baru berlangsung di dalam kepalanya saja. Kyuhyun tidak benar-benar menginginkannya.

Pria itu sendiri yang beberapa hari lalu datang menghampirinya. Memaksa dirinya untuk membolos 2 mata kuliah paginya hanya untuk memberitahu informasi yang Songjin sudah tahu secara detail, bahwa mereka dijodohkan.

Melihat reaksi Kyuhyun saat ini, rasanya kini dirinya tahu siapa satu-satunya orang yang tertarik pada pernikahan itu lebih tepatnya. Mendadak kekecewaan menyergapi Songjin. Dia tahu ini akan terjadi. Dia hanya tidak tahu bahwa ini akan terjadi secepat ini. Bahkan saat semuanya belum dimulai.

“Hanya karena mereka memiliki inisiatif untuk menjodohkan kau dan aku bukan berarti kau bisa bersikap sesukamu seperti ini.” papar Kyuhyun tegas. Tidak berteriak lagi padanya namun Kyuhyun mengatakannya dengan sikap terlalu tegas hingga membuat Songjin merasa malu.

Songjin ingat bahwa dirinya dan Kyuhyun memiliki jenis komunikasi yang jelas-jelas berbeda dari orang kebanyakan. Mereka tidak melakukan hal ‘normal’ seperti remaja pada umumnya, namun itu telah berlangsung sangat lama dan bukankah mereka selalu melakukannya??

Songjin pikir Kyuhyun tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.

Ada sesuatu yang tiba-tiba mendesak ingin keluar dari kedua matanya. Songjin merasa ingin menangis karena teguran Kyuhyun, meski lucu rasanya mengingat ini bukanlah teguran satu, atau dua kali pemberian pria itu.

Ini bukan tentang rasa kesal karena mendapat bentakan keras. Songjin merasa malu bukan main pada sikapnya hingga Kyuhyun berakhir menegurnya. Lihatlah sendiri, bahkan pria itu mempertanyakan apakah dirinya memiliki sopan santun atau tidak.

Seolah selama ini ia tidak dididik dengan benar oleh orang tuanya. Seolah selama ini dia hanya dibiarkan saja oleh orang tuanya hingga sikapnya menjadi teramat mengerikan. Atau, itu semua benar adanya.

Songjin menghirup udara didalam kamar Kyuhyun dalam-dalam. Banyak banyak lalu meloloskan napas panjang yang berat. “Aku hanya ingin mengajakmu ke Everland.” ucapnya lirih. Sedih. Kecewa. Tetapi rasa malu lebih mendominasi.

“Maaf kalau mengganggu.”

“Sekarang kau tahu, kau mengganggu!”

“Yeah.”

Songjin mengangguk. Namun ia tak merasa sanggup meski untuk mengangkat wajah sekedar melirik Kyuhyun sekilas saja. Sudah dikatakan tadi, dia terlalu malu. Lihat betapa tak sopan sikapnya.

Jika selama ini pendapat seperti itu yang Kyuhyun selalu miliki tentangnya. Maka percayalah, itu adalah hal yang paling mengecewakan sepanjang hidupnya.

Songjin mengigiti bibir bawahnya kencang. Sangat sangat kencang. Kakinya mengetuk-ketuk lantai karpet pijakannya. “Aku pergi kalau begitu.” Begitu kalimat perpisahan cepat– satu-satunya yang ada didalam kepalanya saat ini.

— — — 00 — — —

Ya, dan Kyuhyun tidak pernah mengerti bahwa kalimat ‘aku pergi kalau begitu’ milik Songjin beberapa pekan lalu adalah awal pertengkaran hebat (atau bukan) dirinya dan Songjin.

Secara teknis, ini bisa dikatakan pertengkaran. Mereka hampir tidak berbicara satu sama lain. Kata hampir itu sama artinya dengan nyaris tidak melakukannya sama sekali. Terkadang mereka memang berbicara. Seperti, ucapan ‘permisi’ misalnya saat Songjin akan melewatinya.

Atau tolakan halus berupa ‘maaf’ dengan kedua tangan menyilang dan senyum hambar, kecut mengerikan– Kyuhyun tidak pernah mendapat jenis senyuman semacam itu dari Songjin. Dan hubungannya dengan Songjin tidak pernah secanggung ini sebelumnya.

Dibandingkan pertengkaran, hubungan mereka kali ini mungkin lebih tepat digambarkan dengan satu perumpamaan. Canggung. Benar. canggung sekali. Sangat sangat canggung.

Entah sejak kapan tepatnya Songjin menjauhinya. Gadis itu jelas-jelas mengurangi intensitas kebersamaan mereka. Songjin tidak bisa lagi untuk diajak pergi makan siang bersama mendadak. Ia selalu memiliki jutaan alasan untuk menolak.

Keparatnya, ia menolak dengan halus dan sopan. Membuat Kyuhyun kehilangan cara untuk memaksa menggunakan sikap tidak sopan, seperti yang kerap dilakukannya. Biasa mereka lakukan, sebenarnya.

Songjin tidak bisa lagi diajak bergurau. Hubungan mereka berada pada situasi canggung yang tidak memungkinkan keduanya untuk bersenda gurau bersama seperti dulu. Songjin hanya memberi cengiran masam jika Kyuhyun mencoba melemparkan lelucon.

Songjin tidak semenyenangkan dulu lagi. Itu mungkin adalah kesalahannya. Kyuhyun ingat bagian ia meneriaki Songjin bukan main kencangnya dengan rentetan kalimat pedas dan panjang. Dan pasti sangat menyakitkan yang pasti juga akan membuat Songjin merasa terluka.

Kyuhyun bahkan teramat yakin kini, Songjin tidak pernah benar-benar memandangnya lagi. Gadis itu selalu lebih dulu memalingkan wajah, atau merundukan kepala, atau jika kesempatan itu terbuka lebar, Songjin melesat pergi untuk satu, dua alasan.

Sampai Kyuhyun menyadari bahwa seluruh sikap aneh Songjin adalah hasil dari ulahnya beberapa waktu lalu, pria itu dikejutkan oleh percakapan Siwon dan ayahnya sore hari ini.

Kyuhyun yang tadi berencana mengambil segelas jus jeruk di lemari pendingin dapur segera membelokan tujuan. Ikut duduk disofa. “Tunggu, maksud kalian Songjin tidak berada disini? Disini, maksud kalian, di Negara ini?”

Choi Ki Ho, satu-satunya lelaki berusia tidak dalam lingkar dua puluhan mengerutkan kening merasa heran Kyuhyun kebingungan kali ini “Ya.” jawabnya singkat. “Jika melihat reaksimu, kurasa dia pergi tanpa memberitahumu.”

“Ya!” potong Kyuhyun cepat. Hampir berteriak bersama adrenalin meninggi. “Dia tidak memberitahukanku apa-apa. Jadi dia memberitahukan kalian?”

“Aku mengantarnya ke bandara saat itu.” Sanggah Siwon seolah tak ingin masuk dalam kelompok ‘aku tidak tahu apa-apa’ milik Kyuhyun. Lantas seperti tidak ingin kalah, lelaki separuh baya itu ikut mengacungkan jemari “Aku juga” pamernya. “Secara teknis” lanjutnya kemudian. “aku harus bertemu seseorang disana. Kebetulan hari itu Songjin akan berangkat jadi kami pergi bersama-sama.”

“Dan aku tidak diberi tahu?!”

“Kau sedang sibuk!” Kyuhyun mendelik pada ayahnya. Pria tua itu seolah tak bisa memberitahunya jika terjadi hal penting. Bertingkah seperti ini bukan masalah besar.

Ini jelas masalah besar. Bagi Kyuhyun tentu saja.

“Yeah, kau sibuk. Apa yang Kyuhyun lakukan saat itu, Appa?”

“Apa.. sebentar, aku lupa. Songjin berangkat pukul berapa saat itu? Kurasa siang. Benar bukan?”

“Yeah.”

“Ah, kau sedang tidur.” Jemari Choi Ki Ho menjentik cepat. Dan secepat itu pula jantung Kyuhyun terasa lepas dari tempatnya. Ia mencelos terkejut pada hal mengerikan, bahwa ia melewatkan hal seperti ‘itu’ hanya karena hal konyol?

Siwon mengernyitkan wajah memandang Kyuhyun sebal “kenapa kau melihatku seperti itu?” protesnya tak terima. Kyuhyun memerhatikannya seolah ingin menelannya bulat-bulat. “Kau bisa membangunkanku.” Kyuhyun bicara sambil menahan geraman.

“Kupikir kau yang tidak ingin diganggu saat sedang beristirahat.”

“Tapi ini hal yang berbeda!”

Well, kalau begitu” bahu Siwon bergidik santai “Maaf. Itu sudah terjadi.” tandas si tampan itu jauh lebih santai. Sangat sangat santai hingga membuat Kyuhyun luar biasa kesal. Pria itu segera kembali menekuni ponselnya.

Kyuhyun menggemeretakkan gigi. rahangnya mengeras dan tangannya terkepal. Ia merasa ingin memukul sesuatu saat ini untuk menyalurkan rasa kesal serta kecewanya. Tetapi bukankah itu adalah reaksi berlebihan yang mungkin akan membuat semua orang meletakkan rasa curiga padanya lalu menyadari terang-terangan bahwa dirinya jatuh cinta pada gadis tolol itu.

Jadi alih-alih memberi unjuk kemarahan serta kecewa tadi, Kyuhyun mengirup oksigen banyak-banyak berharap amarah dan perasaan hampa yang mendadak dirasanya kini segera menguap. “Kemana dia pergi?” tanyanya setelah merasa sanggup mengatasi kemarahannya.

Siwon mengidikkan bahu. Tanpa mengalihkan padang dari ponsel pria itu menjawab “aku tidak tahu.”

Tentu saja membuat amarah Kyuhyun tersulut lagi begitu mudahnya. “Bagaimana bisa kau tidak tahu? kau mengantarnya!”

“Tapi aku benar-benar tidak tahu!”

“Kau ada disana saat dia pergi, bagaimana mungkin kau tidak tahu?!”

Siwon menggeram panjang. Ayah kedua remaja tampan itu hanya melirik sekilas, memberi pandangan menilai dari balik kaca mata, lalu kembali menggeluti berita di koran.

Kyuhyun terlalu curiga pada Siwon, karena pria itu tidak mungkin tidak menyadari kerenggangan antara ia dan Songjin. Jadi mungkin saja pria ini bersekongkol dengan Songjin dan menyembuyikan keberadaan Songjin. Itu mungkin adalah kesepakatan kecil mereka.

“Yang aku tahu dia pergi ke suatu tempat di Eropa.” Kepala Siwon mengangguk yakin. Bola mata hitamnya bergerak ke atas saat dirinya berpikir keras mengingat. Dia juga merasa bodoh mengapa tidak bertanya kemana tujuan Songjin mengikuti program student exchange selama dua bulan setengah lamanya.

Padahal mereka menghabiskan waktu bersama di bandara cukup lama. Memesan donat. Bertukar Shawl. Bergurau, memesan kopi, bergurau, berjalan-jalan disekitar bandara karena penerbangan tertunda, bergurau. Tetapi tidak sekalipun Siwon memiliki ide untuk bertanya kemana tepatnya Songjin pergi.

Dia hanya tahu, Negara tujuan Songjin adalah suatu tempat di Eropa sana. Yang Siwon lupa, Eropa memiliki beberapa negara didalamnya. Dia memberi cengiran tolol kepada adiknya begitu menyadari kebodohannya.

Kyuhyun menjatuhkan kepala kesamping. Tepat pada punggung sofa dan mengantukkannya kencang belasan kali. “Berapa nomor teleponnya?”

“Aku tidak tahu.” jawab Siwon cepat. “katanya dia akan menghubungiku segera saat sedang tidak sibuk.”

“Tapi ini sudah dua pekan!”

“Itu artinya dia masih sibuk. Dia akan menghubungi jika sudah tidak sibuk.”

“Hyung, Songjin bahkan tidak bisa bahasa inggris.”

“Menggambar tidak perlu kemampuan bahasa inggris. Yang penting keahlian tangan.”

“Tapi Hyung~” Kyuhyun mengerang– mengubah duduk bersila. “kau tahu betapa cerobohnya dia. Apa kau tidak berpikir terjadi sesuatu disana padanya Karena itu dia belum menghubungimu? Dia bodoh.”

Siwon menyengir. “Pertama: dia tidak bodoh. Kedua: sekarang aku baru menyadarinya. Satu-satunya yang aku khawatirkan ternyata lebih dari kekhawatiranmu. Percayalah Kyuhyu-ah, aku jauh lebih mengkhawatirkannya. Aku takut dia akan kembali dengan penduduk local. Lelaki. Lalu mengatakan bahwa mereka berpacaran dan dia sedang mengandung anak lelaki itu. Songjin tidak bodoh. Dia hanya terlalu lugu itulah yang kutakutkan. Aku benar-benar akan mencekiknya jika itu terjadi.” gumam Siwon berandai-andai “kau tahu dia tidak bisa dikatakan buruk rupa– atau apalah itu namanya. Songjin cukup cantik. Dia memiliki tubuh yang bagus meski tingginya sedikit mengkhawatirkan. Kurasa dia akan–“

“Hyung.” Kyuhyun memandang Siwon datar. Sesungguhnya seluruh andaian Siwon tadi ikut merasuki kepalanya dan membuat dirinya berpikir bahwa itu bisa benar-benar terjadi.

Mengingat seperti apa yang Siwon katakan. Songjin tidak bisa dikatakan buruk. Dia cukup cantik untuk selera lelaki, tentang gambaran gadis baik-baik, manis, dan penurut.

Okay, singkirkan bagian manis dan penurut. Songjin bukan gadis manis dan penurut. Tetapi itu mungkin hanya baginya saja. Baginya Songjin tidak seperti itu. Seksi, malah mungkin. Manis? tidak. Sepertinya itu tidak.

Jadi kemungkinan Songjin kembali dengan membawa lelaki local. Ah, memang apa bedanya lali laki local dan bukan? dia tetap pulang dengan lelaki. Ditambah kemungkinan besar bahwa dia mengandung anak pria lain? Itu benar-benar pengandaian paling mengerikan yang pernah Kyuhyun bayangkan.

“Oh ayolah, Kyuhyun-ah. Kapan lagi Songjin memiliki kesempatan untuk melakukan hal ini? Ini hal yang selalu diinginkannya, kau tahu itu!!”

“Yeah tapi–“

“Biarkan Songjin merasakannya. Dia akan baik-baik saja. Kita sama-sama tahu Songjin selalu memiliki banyak cara untuk melakukan sesuatu meski dalam keadaan terdesak. Berikan kesempatan Songjin untuk bertumbuh. Dia butuh situasi dan kondisi seperti itu.”

— — — 00 00 — — —

“Mon ćheri”

“My dear.”

“Est-ce que tu m’aimes?”

Songjin terkejut selama beberapa saat. Ia terdiam– berpikir “sebentar.” matanya bergerak kesana kemari. Bibirnya mengerucut runcing lalu dua detik setelah itu kerucutan di bibir Songjin berubah menjadi senyuman tipis. “Sialan.” tawanya menggema di dalam café.

“Aku tidak jatuh cinta padamu.” katanya menggeleng. Ia mengangkat bagels sarapannya pagi ini. Memberi olesan cream keju diatasnya dalam jumlah cukup banyak hingga pria dihadapannya hanya bisa tercengang tanpa sanggup berkomentar.

“Untuk ukuran seseoang berdarah campuran, kau tidak terlihat seperti orang yang memiliki darah asia kau tahu?”

“Aku tahu.” lelaki itu mengangguk. “Kau bukan orang pertama yang mengatakannya. Ada ratusan juta orang lain– juga mengatakan hal serupa.”

“Alairé Adams.” Suara Songjin separuh mendesah saat mengatakannya. Itu terjadi karena Songjin menjilat cream keju dijari kelingkingnya. Lalu tiba-tiba berpendapat bahwa cream keju itu adalah cream keju paling enak yang pernah masuk ke dalam mulutnya sepanjang satu pekan ini. “Namamu itu bahkan tidak ada unsur asianya!”

“Oh Songjinnie, percayalah, jika ayahku yang berkebangsaan Jepang maka namaku pasti akan menjadi Sato Alairé Adams.”

“Yoshida Alairé”

“Atau Watanabe Alairé?”

“Itu tidak terdengar cocok ditelingaku.”

“Aku juga.”

Keduanya mengangguk setuju. Mereka sama-sama mengigit bagels dalam ukuran besar lalu mengerang menikmati lezatnya cream keju homemade café kecil di depan Paris collage of art. Universitas local tempat mereka mendapat kesempatan untuk melakukan pertukaran pelajar selama dua setengah bulan.

Alairé Adams, adalah lelaki berkebangsaan Perancis berdarah Jepang. Pengalaman tinggal delapan tahun di Korea Selatan sebelum kembali ke tanah kelahiran Perancis, membuat pria itu menguasai empat bahasa sekaligus.

Perancis, bahasa ibu. Jepang, bahasa ayah. Korea, bahasa (terpaksa) sehari-hari atau jika tidak, dia tidak akan memiliki teman disekolah mengingat warga Korea Selatan tidak banyak yang menguasai bahasa inggris. Kemampuan bahasa Jepang mereka pun rata-rata nol besar. Apalagi bahasa Perancis.

Bahasa inggris dipelajarinya secara otodidak karena Alairé kerap mendengar sang ayah berbicara kepada orang disekitarnya, terkadang bahkan ibunya, dengan bahasa inggris. Jadi Alairé Adams adalah orang paling beruntung karena menguasai empat bahasa diusia relative sangat muda.

Songjin bertemu dengan Alairé dua hari setelah program pertukaran pelajarnya berlangsung. Dikelas life painting tepatnya. Alairé saat itu menghampirinya, bertanya terang-terangan tanpa berbasa-basi ingin menutupi wajah kagum bahwa ia merasa heran pada kemampuan Songjin ketika Songjin menggambar jemari.

Terlihat terlalu nyata, menurutnya.

Dan Songjin menanggapi terbuka. Seperti itu gambaran singkat pertemanan dua orang pelukis amatir itu selama enam minggu ini kurang lebihnya. “Jadi katakan padaku, bagaimana kelanjutan cerita pria itu?”

“pria yang mana?”

“Itu, yang kau katakan sangat tampan, sangat tinggi dan sangat cerdas? Aku mulai merasa seperti sedang membaca manga kau tahu? Lelaki yang kau gambarkan adalah jenis lelaki yang selalu ada didalam komik.”

“Namanya Cho Kyuhyun.”

“Ya, aku ingat. Berhenti mengucapkan namanya dengan senyuman tengik seperti itu. Kau jatuh cinta dengannya, kenapa hingga sekarang kau belum juga memberinya kabar? Menurutmu dia sadar kau tidak di Korea lagi?”

Songjin menggidikan bahu. Dia cukup yakin bahwa Kyuhyun pasti sadar bahwa ia tidak sedang berada di Korea. Kyuhyun mungkin akan sadar satu sampai dua pekan setelah dirinya pergi. Hanya saja, dia tidak yakin Kyuhyun akan peduli pada hal tersebut.

Terakhir kali bertemu mereka masih dalam keadaan canggung super mengerikan hingga tidak akan ada kata-kata yang bisa dilontarkan meski dalam konteks berbasa basi. Lagipula Kyuhyun sangat sibuk. Apa pentingnya memberi kabar padanya tiga kali sehari seperti meminum obat toh Kyuhyun tak akan mengurusinya.

Dan lagi tidak ada kepentingan dirinya mengabari Kyuhyun seperti itu. Mereka bukan siapa-siapa. Mereka tidak berpacaran meski orang tua mereka merencanakan perjodohan. Perjodohan tengik kata Kyuhyun beberapa minggu lalu. Kyuhyun tidak melamarnya. Mereka tidak memiliki ikatan apapun. Secara teknis, mereka memang tidak memiliki hubungan apa-apa.

Mereka hanya berteman. Teman baik. Itu masih belum memberi alasan cukup banyak bagi Songjin untuk memberi kabar kepada Kyuhyun secara intens. Jadi pada dasarnya alasan Songjin menunda menghubungi Kyuhyun maupun Siwon adalah ia kehabisan alasan untuk melakukannya.

Songjin harus mengakuinya mau tak mau. Suka tidak suka. Itulah yang membuat dirinya merasa kecewa. Tetapi jikapun harus melakukannya, Songjin masih merasa malu bukan main pada teguran Kyuhyun kemarin lalu. Teguran itu bahkan masih terdengar terlalu jelas didalam kepala Songjin.

Seperti apa panic di wajah Kyuhyun. Kekesalan pria itu. Juga seluruh kata-kata Kyuhyun. Mengingat hal itu membuat Songjin merasa bukan main malu. Ada banyak sekali alasan mengapa dirinya kemudian tak lagi berani memulai percakapan lebih dulu pada Kyuhyun. Dan teguran Kyuhyun kemarin, adalah salah satunya.

“Songjinnie” Alairé menjentikkan jari tengah dan ibu jari didepan hidung Songjin, menyadarkan Songjin segera. “Snap snap. Tiga puluh menit lagi kelas dimulai berhenti memikirkan Kyuhyun mu. Habiskan bagels surga apalah itu milikmu, sekarang.”

— — — 0 0 — — —

Percakapan dalam makan siang adalah hal yang sangat penting bagi mereka para pebisnis. Tak terkecuali Kyuhyun meski isi kepalanya tak sedang berada di The famous cruise ship exhibition— topic pembicaraan dirinya bersama empat laki-laki berusia akhir empat puluhan, plus satu-satunya wanita sebagai anggota disana.

Anggotanya ialah: dirinya sendiri, Park Seul Gi, Choi Ki Ho– ayahnya, satu orang laki-laki local bernama Marvin Leguizamo dan Amy Johansson. Rencana membuat sebuah anak perusahaan dalam lini pariwisata seperti resort berbintang, restoran serta kapal pesiar menjadi rencana mereka.

Marvin dan Amy adalah dua orang pebisnis local yang telah menggeluti bisnis pariwisata lebih dulu. Mereka sedang membagi banyak informasi serta cara tepat bagi Seul Gi dan Ki Ho untuk memulai suatu yang baru dari nol.

Pameran kapal pesiar yang akan mereka datangi malam ini adalah salah satunya. Menurut informasi Marvin dan Amy, pameran itu selalu sanggup membuat siapapun yang datang merasa tercengang lalu bermimpi untuk menaiki kapal pesiar mewah menuju salah satu negara di Eropa.

Lantas, disinilah mereka berada saat ini. Huitrerie Regis. Restoran local bergaya classic yang telah memikat Choi Ki Ho dan Seul Gi. Saat pertama kali masuk mereka langsung disambut oleh patung laki-laki telanjang hingga Kyuhyun membelak terkejut.

Dekorasi serba Putih membuat restoran ini semakin terkesan mewah selain bersih tentu saja. Kursi-kursi empuk berpelitur emas terlihat sejauh mata memandang didalam restoran besar ini. Berulang kali kedua sahabat itu mengatakan mereka ingin membuat restoran semenarik, dan sebesar ini jika memiliki kesempatan dan Kyuhyun hanya bisa mengangguk lalu memberi senyum hampa.

“Tempat ini berada dipusat kota. Hanya perlu berjalan kaki menuju taman kota, menara Eiffel, gedung theater, dan beberapa universitas.” Jelas Amy dalam bahasa inggris yang fasih meski aksen perancis masih tersisa. Wanita itu lantas melirik Kyuhyun sejenak. Sadar pria itu tak menempatkan focus disana, ia lalu menyenggol lengan Kyuhyun, “Eiffel tower restaurant menjadi tempat favorit para lelaki untuk melamar kekasih mereka. Menurutmu kau akan tertarik, Cho?”

Kyuhyun tersentak segera menurunkan tangan yang semula menopang dagu. “Aku bahkan tidak punya kekasih untuk dilamar, Ms. Johansson.” jawabnya tampak pasrah. Matanya kemudian mengelilingi restaurant. Dari tempatnya, Kyuhyun bisa melihat menara Eiffel cukup jelas.

“Kudengar seseorang akan menikah dalam waktu dekat.” Amy kini bicara dalam bahasa Korea. Dia tidak perlu berpura-pura tak tahu bahwa Kyuhyun lah yang sedang ia sindir. Namun pria itu hanya menyengir seadanya. “Yeah. Tapi calon istriku kabur entah kemana.”

Amy mengerutkan kening, “Maksudmu?”

“Songjin?” Park Seul Gi menyela. “Kalau yang kau maksud Songjin, kita sedang berada di tempat yang sama dengannya.” jelas laki-laki itu mengejutkan Kyuhyun.

Duduk Kyuhyun menjadi sangat tegap. Sontak Kyuhyun merapikan jasnya entah mengapa “D– dia disini?” ia menelan ludah sekuat tenaga.

“Yeah. Kupikir kau tahu.”

“Dia tidak tahu.” Choi Ki Ho mencemooh kegugupan dadakan putranya. “Terakhir kali bersama, mereka sedang bertengkar. Aku tidak tahu jenis pertengkaran macam apa tapi mereka sedang dalam situasi yang kau tahu, anak muda.” Ki Ho bertukar pandang pada Seul Gi.

“Appa.” Kyuhyun mencoba menegur ayahnya namun dua laki-laki separuh baya itu sepertinya sudah terlanjur menikmati gossip dadakan mereka. Tak berapa lama setelah itu ekspresi kau tahu-apa yang terjadi-pada-anak muda-masa kini Choi Ki Ho dan Park Seul Gi tampak sangat jelas. Keduanya tertawa berpandangan seolah dapat membaca isi pikiran satu sama lain. “putrimu tidak memberi kabar pada putraku.” ledek Choi Ki Ho. “maksudku, KEDUA putraku!”

“Biar kutebak, kau juga tidak tahu dimana Universitas Songjin disini?”

Kyuhyun segera mendengus kencang dihadapan banyak mata yang sedang menertawainya disana. Dia cepat cepat membuang wajahnya. Memandangi menara Eiffel namun malah membuatnya semakin sebal karena ingat pada penjelasan Amy mengenai romantisme menara tidak ada istimewanya itu, menurut Kyuhyun.

Jadi ia mengangkat garpu mulai menggulung spaghetti carbonara– satu-satunya menu Italia yang terdapat dimeja nomor 8 disana. Kyuhyun memesan spaghetti entah mengapa disaat semua orang disana terserang euphoria French cuisine. Escargot membuatnya mual. Ratatouille jelas tidak akan dipesannya karena menu itu mengandung 90% sayur.

Ia sempat berpikir untuk memesan Bourride. Soup ikan salmon dengan sayuran seperti lobak dan wortel. Dimasak menggunakan wine dalam api kecil sangat lama. Jenis-jenis makanan kesukaannya namun menu itu hanya tersedia dimalam hari saja. Kyuhyun tidak mengerti mengapa ada restaurant yang mengotak-kotakkan menu seperti itu.

Jadi Kyuhyun merasa tidak memiliki banyak pilihan. Saat ia membaca menu dalam tulisan paling sederhana dalam buku menu, yaitu Spahgetti Carbonara. Ia segera memesannya tanpa pikir panjang.

Lagipula ia sudah muak dengan tulisan aneh yang tidak dimengertinya sama sekali dalam buku menu. Sambil mengunyah perlahan-lahan Kyuhyun berusaha menutup telinga dari cibiran Park Seul Gi atau ayahnya mengenai keributannya dengan Songjin.

Pembahasan kapal pesiar mewah, mendadak berubah menjadi ‘mengapa anak muda jaman sekarang senang mempersulit diri sendiri?’ Kyuhyun berkali-kali memutar bola mata saat Amy, satu-satunya wanita dalam usia tidak terlampau jauh darinya– hanya berbeda 3 tahun saja, ikut menggodanya.

Bahkan Amy yang tidak tahu apa-apa ikut menertawainya. Maka bukan salah Kyuhyun jika mendadak ia merasa ingin kembali ke hotel saja. Perjalanan ini mulai tidak masuk akal untuknya.

“Apa aku perlu menghubunginya?” goda Seul Gi mengeluarkan ponsel dari saku jas. “Aku yakin Songjin akan kemari jika kuminta dia untuk datang.”

Oh, Kyuhyun tahu ia sedang dijadikan lelucon tetapi ide untuk membawa Songjin kemari sebenarnya bukan ide yang buruk. Dia sudah berminggu-minggu tidak bertemu dengan gadis itu. Tidak berbicara. Bahkan Kyuhyun mulai sangsi pada penampilan lama Songjin, akan bertahan ditempat seperti ini. Bukan tidak mungkin gadis itu memanfaatkan situasi (seperti yang sering dilakukannya saat jauh dari segala pengawasan) dan berjalan-jalan mengelilingi kota menggunakan mini dress.

Baiklah-baiklah itu terdengar tidak masuk akal. Sekarang sedang musim dingin jadi tidak mungkin Songjin akan berkeliaran dengan bikini seperti yang Kyuhyun bayangkan. Meski bukan tidak mungkin Songjin akan bertingkah gila karena Kyuhyun kerap memergoki gadis itu beride seperti itu dalam beberapa kesempatan.

“Tidak. Jangan.” Choi Ki Ho menggeleng cepat. “Biarkan dia berusaha. Dia akan terlalu senang jika kita membantunya. Hidupnya sudah penuh dengan kemudahan. Kau tahu maksudku.” dua pria itu berpandangan lumat hingga Kyuhyun melotot jengah.

“Kalau-kalau kalian lupa, orang yang kalian bicarakan ada disini, hallo!” Telunjuk Kyuhyun mengarah pada wajahnya sendiri namun Seul Gi dan Ki Ho tak menghiraukannya. Park Seul Gi malah menggeser kursi, mendekat pada Amy.

Memberi pertanyaan dalam bisikan namun tololnya, jenis bisikan yang bisa didengar oleh sepuluh orang berjajar. “Ms. Johansson, seberapa jauh jarak Paris collage of art dari tempat ini?”

“Paris Collage–“ Amy mengerutkan kening seraya mengetukkan telunjuk diatas meja. “Ah, kurasa tempat itu hanya dua blok dari sini.” jawab wanita itu kemudian. “Ada apa, Mr. Park?”

Pria itu menggeleng dan tersenyum. Menoleh pada Kyuhyun, memberi cengiran menilai, “Kyuhyun-ah, berterimakasih lah padaku sekarang.” ujarnya bersama kepala mengangguk-angguk puas.

Laki-laki tua itu selalu tahu cara untuk mengerjai Kyuhyun. Bukankah begitu?

— — — 0 0 — — —

“Berterimakasih padaku sekarang?! yang benar saja orang tua itu! Dia pikir Paris hanya sebesar Myeongdong? Meski hanya dua blok dari sini tetap saja kemungkinan untuk bertemu tidak semudah seperti yang selalu ada di dalam serial drama.”

Gerutu Kyuhyun mengomel sepanjang panjang lepas dari makan siang panjang tadi. Dia mengomel seorang diri ditengah perjalanannya kembali menuju hotel untuk beristirahat sampai malam nanti saat pameran kapal pesiar itu diadakan.

Mereka telah berjanji akan berkumpul di depan Huitrerie Regis lagi. Marvin dan Amy akan menjemput mereka dengan kendaraan miliknya membawa mereka menuju Palais Garnier. Tempat dimana pameran itu diadakan.

Orang-orang disekitar Kyuhyun tidak akan ada yang mengeti omelan Kyuhyun karena Kyuhyun berbicara cepat dalam nada mengerikan menggunakan bahasa Korea. Tentu saja tak ada yang memahaminya.

Sejauh mata memandang serta telinga tajamnya, Kyuhyun selalu mendengar orang-orang disekitarnya berbicara seperti sedang berkumur-kumur. Ia sendiri tidak memahami bahasa perancis kecuali ajakan untuk minum wine bersama, tetapi itupun tidak akan terdengar seksi seperti orang disekitarnya saat ini berbicara.

Dalam kekesalan yang menggunung Kyuhyun sayup mendengar teriakan berupa kalimat permohonan dalam bahasa Korea. “Hey, jangan melompat-lompat kau lihat sendiri jalanan sangat licin.” Kyuhyun menoleh mendapati seorang lelaki local, tinggi, rambutnya berwarna cokelat kepirangan, berdecak kesal. Umpatan dalam bahasa inggris dan perancis sempat dimuntahkannya namun orang yang sedang diajaknya berbicara sepertinya tidak terlalu peduli.

“Aku sekarang yakin kau adalah reinkarnasi babi hutan.” ejeknya. “Cepat turun dari sana astaga!!”

“Babi hutan bukan objek yang bagus untuk dilukis. Aku lebih tertarik pada kupu-kupu.”

“Kau tidak akan bisa sampai kesana. Kakimu tidak seberapa panjang, anak kecil!”

“Aku hanya ingin mengambil gambarnya. Dan berhenti memanggilku anak kecil!”

“Berikan ponselmu padaku! Biar aku yang mengambilnya!” Geram pria itu akhirnya setelah mendengus. “Kalau kau terjatuh aku yang harus bertanggung jawab pada ayahmu, kau tahu?!”

Lawan bicara pria itu, seorang gadis, terkekeh geli setelahnya. Turun dari kursi kayu dipinggiran jalan dengan cara melompat. Ia meleletkan lidah untuk menggoda kecemasan pria tersebut, sampai ia memberikan ponselnya.

“Dari semua binatang yang kau tahu, kenapa kau memilih babi hutan? Kenapa tidak kelinci?”

Pria itu mendesah malas, “terserah aku ingin menyebutmu apa ini mulutku.”

“Pih.”

“Kenapa harus kupu-kupu diatas ranting seperti ini, seleramu benar-benar tidak masuk akal. Kau harus bertanggung jawab jika aku terjatuh dan kakiku patah, Ms. Park. Kau harus menjadi kakiku sampai kakiku pulih.”

“Mr. Adams, kau sendiri yang meminta tadi. Aku hanya mengikuti permainanmu. Cepatlah sedikit disini dingin sekali, dasar lamban!”

“Songjin!” Pria itu mengerang kencang. Berbalik badan merunduk memandang gadis dibawahnya dalam balutan mantel abu-abu tebal. “Je risque ma vie pour ce terrible papillons. Tidakkah kau lihat pengorbananku?” Laki-laki itu merunduk memandang lawan bicaranya sendu. “Ne me dérange pas, mon Chérie.”

 

“Mon Chérie” gadis itu terkikik geli menutupi mulutnya dengan kedua tangan rapat-rapat “Merci, beau”. Disaat gadis itu merasa lucu, entah karena apa, Kyuhyun malah sedang terkejut bukan main. Tubuhnya separuh membatu mendengar nama tak asing didengarnya “Songjin?” ia membalik tubuh terburu-buru.

— — — 0 0 — — —

“Avoir un Bonheur sans mélange

Eja Songjin kaku, menuliskan tulisan perancis itu dalam buku sketsanya perlahan. Dia mengarahkan buku tersebut pada Alairé supaya pria itu bisa memberi koreksi jika terjadi salah penulisan. Tetapi sejauh ini, tidak ada protesan berisik Alairé, sama artinya bahwa ia melakukan hal tepat.

Complete Happines? kenapa?”

“Kupu-kupu ini sedang bercengkrama diatas ranting, kau pikir kenapa aku memberinya judul begitu?” Songjin mendengus kencang. Memberi lirikan sengit pada Alairé saat lelaki itu menyengir tolol membalasnya.

“Sebaiknya aku pulang mengingat aku tinggal cukup jauh.”

“Oh yeah. Rumahmu di Monte Carlo, aku baru ingat.” Cibir Songjin pura-pura terkejut. “Berlebihan.” tambahnya setelah itu.

“Realistis. Langit hampir gelap nona.”

“Rumahmu hanya tiga blok dari hotelku.” Songjin mengerling, “mau bermalam ditempatku?”

“Astaga, kau sedang mengajak laki-laki asing bermalam ditempatmu? Kau sering melakukannya di Negaramu sana, Songjinnie!!” Wajah Alairé nampak terkejut berlebihan. Raut wajah buatan yang tidak menarik bagi Songjin sama-sekali, kecuali hidung pria itu tentunya. Sudah menarik perhatian Songjin sejak kali pertama mereka bertemu.

Songjin segera berdecak seraya memandangi Alairé. “Aku hanya tidak ingin sendirian diruangan sebesar itu, dasar! pikiran kotormu berbahaya! Aku bosan dikamarku.”

“Kalau begitu kenapa kemarin menolak dormitory? Kau aneh.”

“Aku realistis. Kamar itu terlalu sempit untuk ditinggali Bertiga.”

“Karena kau terbiasa berada dikamar sebesar ruang rapat Prince William selama ini?” Alairé tersenyum tipis pada Songjin sambil memasang sarung tangannya. “Omong-omong besok pagi kita tidak lari pagi bersama, tidak masalah? aku harus membantu ibuku menyiapkan beberapa keperluan pesta.”

“Yeah. Asal aku kau undang ke pesta itu.”

Non, petite fille, kau tidak boleh datang ke pesta penuh wine.”

“Ohyeah? usia kita sama Mr. Adams.”

Alairé tertawa kencang mendapati Songjin terang-terangan tidak terima pada julukan petite fille yang memiliki arti anak kecil. Hampir semua orang dikelas memanggil Songjin seperti itu karena memiliki ukuran tubuh paling mungil dikelas. Namun Songjin terang-terangan kesal dan protes pada hal tersebut.

Bukankah anak kecil memiliki padanan seperti nakal, tidak tahu sopan santun serta tatakrama? Dia jelas bukan seperti itu. Benar?

Alairé mengacak rambut Songjin, masih menyisakan semburan tawa lalu segera berpamitan. Bersiul, berjalan kaki menuju persimpangan dua meter dihadapannya.

Sedangkan Songjin baru angkat kaki empat puluh menit setelahnya. Setelah tangannya terasa kebas serta hidungnya pedas karena dingin. Ia segera hengkang dari taman kota menuju The Plaza Hotel.

The plaza hotel adalah hotel tertua yang berada di Perancis. Berada dipusat kota membuat hotel tersebut menjadi incaran para turis mengingat lokasi strategis, serta nilai history yang tinggi. Saat pertama masuk, kau akan disuguhi oleh belasan lampu gantung berusia puluhan tahun.

Hotel ini adalah hotel incaran para selebriti saat mereka berkunjung ke Paris. Salah satu alasan Songjin mengapa ia memilih tinggal ditempat ini untuk sementara waktu. Pendapat itu bukan bualan semata. Selama 1 bulan penuh ia sudah bertemu– sebentar, melihat lebih tepatnya, karena ia hanya bisa dan berani memandangi dari kejauhan.

Sebut saja Malin Aekerman, Christian Bale, Kate Beckinsale, Leighton Meester. Baiklah, Morgan Freeman tidak bisa dikatakan ‘hot’ tetapi dia terkenal. Dan itu boleh masuk ke dalam hitungan, ‘kan?

Jadi bukan tidak mungkin gerombolan orang di depan meja resepsionis ketika Songjin akan memasuki lift adalah gerombolan crew dari seroang selebriti lagi. Mungkin kali ini Matt Damon atau Mark Ruffalo.

Entahlah ini Paris. Apapun bisa terjadi disini.

Ia sempat memutuskan untuk mempertimbangkan apa akan membiarkan dirinya terpesona dengan gerombolan baru disana, atau segera melangkahkan kaki menuju lift, ketika tubuhnya oleng karena sebuah troli berisi tumpukan koper menghampirinya, lalu matanya, ia yakin tidak sedang salah melihat.

Ia yakin betul siapa yang berada di meja resepsionis disana. Celakanya orang itu sudah terlebih dulu menangkap dirinya. Memandanginya lumat. Mungkin itu terlihat kesal. Mungkin marah. Mungkin. Atau mungkin juga pandangan lega. Songjin tidak tahu pasti.

— — — 0 0 — — —

“Aku tidak tahu kau disini.”

“Tidak suka?”

“Terkejut lebih tepatnya.”

Songjin memberi cengiran masam pada gelas kosong yang sedang ia isi dengan teh panas dari teko keramik. Saat Kyuhyun sedang tidak memandangnya, ia mencuri kesempatan untuk melirik pria itu.

Separuh hatinya sedang melonjak kegirangan merasa senang bukan main karena dapat bertemu Kyuhyun disini. Pertemuan seperti ini jelas seperti mimpi. Dia tidak memberi tahu siapapun selain orang tuanya mengenai negara tempatnya melakukan pertukaran pelajar selama beberapa saat.

Jadi Songjin tidak memiliki ide bagaimana Kyuhyun bisa menemukannya. Ia sempat berpikir bahwa Kyuhyun mencarinya habis-habisan. Mungkin menyewa segerombol detektif professional atau apalah itu, namun Songjin segera sadar bahwa cuplikan seperti itu hanya ada didalam novel atau serial drama.

Separuh hatinya lagi merasa kecewa Kyuhyun menemukannya. Ia bukannya tidak ingin bertemu dengan Kyuhyun saat ini tetapi sisa malu akibat pertengkaran mereka dulu masih tersisa cukup banyak. Songjin belum membuang seluruhnya. Dia masih merasa malu, terlebih pada dirinya sendiri. Dasar anak tidak tahu sopan santun!

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku baru akan bertanya hal yang sama.” Songjin mendapati salah satu alis Kyuhyun meranjak naik. Tinggi. Berapa lama ia tidak bertemu dengan Kyuhyun?

Tiga minggu? empat? lima? entahlah. Ia tidak memiliki ide bagaimana bisa ketampanan Kyuhyun selalu meningkat tiap minggunya, terlebih saat mereka lama tidak bertemu. Ini contoh yang paling mengerikan.

Bagaimana ia bisa melupakan Kyuhyun dan meninggalkannya perlahan ketika pria itu selalu berada disekitarnya, cepat atau lambat. Muncul tiba-tiba dengan wajah tengik seperti itu? Songjin bahkan yakin Kyuhyun belum membersihkan tubuhnya. Mandi, berganti pakaian. Tetapi kemeja biru tua ditubuhnya malah semakin membuat Kyuhyun terlihat seolah sedang menghamburkan ketampanannya.

Sadar ia bisa tersihir dalam waktu beberapa detik lagi Songjin segera membuang wajahnya, memandangi teko keramiknya. Dan Kyuhyun bukan tidak melihat kejadian itu. Ia segera mendengus menyadari Songjin masih saja mak ingin memandangnya. Gadis itu pasti masih marah padanya.

“Kau disini dengan Appa.” kata Songjin lebih berupa pernyataan. “Aku tahu. Aku hanya tidak mengira bahwa Appa akan membawamu juga.”

“Membawaku?” mata Kyuhyun mengikuti Songjin saat gadis itu meletakkan gelas diatas meja tamu marmer. Songjin mengigiti bibirnya. Butuh belasan detik bagi Songjin untuk mengangkat kepalanya. Balas melihatnya, meski hanya belasan detik juga. Dan tersenyum seadanya.

Terpaksa mungkin– asumsi Kyuhyun.

“Aku tidak meminta dibawa oleh siapapun kemari. Aku bekerja. Aku tidak tahu kau disini. Aku baru tahu kau disini beberapa jam lalu.” Di restoran. Dan trotoar taman kota saat kau sedang sibuk bersama lelaki asing.

Kyuhyun ingin mengatakannya tetapi mungkin penjelasan itu akan memberi reaksi lebih canggung dari Songjin untuknya. Mengingat keadaan mereka masih belum baik-baik saja, sebaiknya topic itu tidak perlu diangkatnya dulu.

“Kau juga mendatangi pameran kapal pesiar?”

“Ya.”

“Apa Siwon Oppa juga ikut?”

“Tidak.”

“Kau… lapar?”

Kedua mata Kyuhyun mengerjab cepat belasan kali. Dari semua pertanyaan yang bisa Songjin ajukan. Menanyakan kondisi perut adalah salah satu pilihannya? Disaat ia memiliki ratusan hutang penjelasan?

Astaga.

Kyuhyun menghela napasnya panjang bersama bola mata yang diputar cepat. Mulutnya terbuka lebar, siap menegur Songjin tetapi ponselnya berbunyi. Nama Amy tertera dilayar.

Kyuhyun segera menghardik apa saja yang ada dihadapannya. Ia lupa bahwa malam ini adalah pameran kapal pesiar, topic yang tadi sempat dibicarakan oleh Ayahnya dan ayah gadis ini. Ia terlalu sibuk menguntit kemana Park Songjin pergi dan siapa laki-laki asing yang mengekori gadisnya hingga lupa pada tugasnya.

“Aku akan bersiap. Bisa beri aku waktu empat puluh menit lagi?” Kyuhyun segera bangkit dari kursi sofa empuk. “Tidak aku belum bersiap sama sekali. Aku baru sampai di hotelku beberapa menit lalu.”

Kyuhyun melirik Songjin. Songjin cepat-cepat membuang wajahnya. Memeluk nampan lalu beranjak pergi dari ruangan tersebut menuju dapur.

Selepas itu Songjin hanya mendengar suara Kyuhyun menjelaskan ini dan itu. Memberi alasan ini dan itu, kemudian membuat beberapa kesepakatan. Pria itu segera menuju dapur selepas sambungan telepon berakhir.

Songjin memberi senyum lebar yang kaku selagi Kyuhyun memandanginya dari atas rambut hingga ujung kaki seolah menilai penampilan. Maka Songjin segera meletakkan nampan karena pasti akan mengurangi penilaian banyak sekali. Dengan sebuah nampan ia pasti terlihat seperti upik abu.

Kyuhyun memasukan ponsel ke dalam saku celana. Mendekati Songjin, mengamit tangannya lalu memutar tubuh Songjin. “Kau membawa mantel berwarna biru tua?”

“Y–ya? Ada apa?”

“Kau tahu dimana Palais Garnier?”

“Ya, kurasa. Ada apa??”

Kyuhyun terdiam beberapa saat. Melipat tangan di dada lalu tersenyum “bisa temani aku kesana?”

— — — 0 0 — — —

“Kau berhutang penjelasan padaku, Songjin. Kau tahu itu.”

Sinis Kyuhyun selepas dirinya dan Songjin turun dari taksi dan berjalan menuju gedung megah dua ratus meter dihadapannya. Songjin tidak menghiraukannya. Gadis itu hanya mengeluarkan suara yang terdengar seperti gumaman dengan kepala merunduk. Seolah trotoar terlihat lebih menarik daripada wajah rupawan Kyuhyun.

“Kenapa kau tidak mengatakan kau akan pergi?”

“Aku berniat ingin memberitahukanmu.” keluh Songjin merasa bersalah entah untuk apa. “Tapi sesuatu terjadi.” lanjutnya.

Kyuhyun cepat dapat memahami maksud dari ‘sesuatu terjadi’ Songjn mungkin adalah peristiwa everland keparat itu. Ia juga merasa bersalah tapi kejadian itu sudah terlewat lama sekali. Kenapa Songjin begitu pendendam?

“Kau marah padaku?” seketika Kyuhyun merasa tolol telah bertanya. Tentu saja Songjin marah! Orang gila mana yang tidak marah dibentak dan dimaki seperti itu?! Tetapi Songjin menggelengkan kepalanya menjawab tanpa keraguan.

“Kurasa tidak.” akunya ringan. Masih menolak memandang Kyuhyun dengan alasan apapun. “Kau memang menyebalkan. Tapi aku jauh lebih meyebalkan saat itu. Aku memang sedikit merepotkan. Maaf sudah mengganggu.”

Kyuhyun mendengus cepat mendengar Songjin tiba-tiba menjadi putri salju yang sedang di interograsi oleh ibu tiri jahat dan kejam. “Sedikit?” tanyanya. Berniat mencairkan suasana dengan gurauan juga, namun sepertinya Songjin sedang terlalu serius.

Gadis itu mengangkat wajah, menggaruki kening. Memandangi sekitarnya, baru kemudian berhenti dimanik mata Kyuhyun. Kejadian itu hanya berselang lima detik tidak kurang apalagi berlebih. Songjin mengigiti bibirnya canggung.

“Karena itu kupikir kita tidak perlu menikah” katanya cepat. Sangat sangat cepat hingga Kyuhyun hanya sanggup mendengar akhir dari kalima itu saja. “Apa katamu?” jantungnya nyaris lepas ditempat sedangkan Songjin tampak santai ketika mengatakannya. Membuat Kyuhyun semakin jengkel “Aku hanya berpendapat.” ujar gadis itu begitu saja. 

Songjin semakin kencang mengigiti bibirnya. Ia meremasi jemarinya sendiri untuk menutupi rasa gugup serta perasaan berkabung bahwa dirinya sendirilah yang baru saja mematikan harapan terbesarnya sepanjang hidup. Menikahi Kyuhyun.

Tepat ketika Kyuhyun sepertinya akan meledakkan omelan, Songjin tersenyum lebar. Sangat sangat lebar, saat matanya menemukan sang ayah tepat ditangga bangunan tua tempat pameran tersebut digelar. Meninggalkan Kyuhyun dan puluhan makiannya seorang diri.

“Hanya berpendapat katanya?” dengus Kyuhyun murka. “Bagaimana bisa orang yang selalu mengeluarkan pendapat luar biasa tolol seperti itu mendapat kesempatan mengikuti pertukaran pelajar sampai ke Negara ini?”

157 thoughts on “[KyuJin Series] Worddiction — Abience 1

  1. emang kalo udah ngantuk, capek, badan ga keruan terus ada yg ngusik itu bisa bikin lepas kontrol.. siapapun lah itu yg ganggu whatever langsung auto semprot

  2. Makanya bang elu jadi cowok jangan galak galak mana gak mau bilang suka sekarang kena batunya kan lu juga 😆😆😆😂 Songjin kudu egois dikit jangan mau langsung lumer sama tingkah kuyun makasih kak atas ceritanya 😘😘😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s