[KyuJin Series] Worddiction — Abience 2 (END)


[KyuJin Series] Worddiction

Abience

Cho Kyuhyun | Park Songjin 

 

Songjin tahu memberi saran supaya perjodohan dibatalkan adalah pilihan penuh risiko. Itu sama artinya dengan mematahkan hatinya sendiri. Jika pada akhirnya perjodohan itu tidak akan berlangsung, semestinya itu terjadi beberapa bulan lalu saat ide itu pertama kali dicetuskan oleh ayahnya.

Ketika angan menata meja makan disore hari saat Kyuhyun masih sibuk bermain bola bersama anak-anak mereka tidak semakin menggila berkobar-kobar didalam kepalanya.

Imaginasinya sudah kesana kemari mengenai kehidupan rumah tangga bersama Kyuhyun yang dirasanya akan sangat menyenangkan. Songjin baru mengetahuinya satu bulan lalu bahwa ternyata Kyuhyun tidak menginginkannya. Sama sekali tidak.

Harapan melihat wajah tampan itu setiap pagi saat matanya belum menemukan focus lain, dan saat tubuhnya beristirahat dimalam hari, ternyata benar-benar hanya akan menjadi sebuah angan saja.

Seharusnya ia menyadarinya sejak lama. Kyuhyun akan selalu memperlakukan dirinya tidak lebih dari hubungan pertemanan saja. Jika harapannya ternyata melambung tinggi, sudah jelas itu bukan salah Kyuhyun. Ia sendiri pencipta harapan itu.

Membuat pria itu jatuh cinta padanya pun rasanya akan sulit sekali. Ia sudah mencobanya berpuluh kali namun kini Songjin sadar bahwa ini bukan jenis pertempurannya. Berapa kali Kyuhyun mengatakan bahwa ia bukan tipe gadis favoritnya? Songjin ingat, Kyuhyun pernah berkata, “kau bahkan tidak memiliki satu hal pun dari tipe yang kusukai.” Seharusnya Songjin tahu, itu adalah peringatan alami bahwa Kyuhyun tidak menginginkannya.

Cepat atau lambat, ia harus menerima fakta mengerikan itu. Mau tak mau suka tidak suka. Itu seperti hukum alam yang tak bisa kau ganggu gugat cara kerjanya.

Seorang wanita dengan rambut pirang pendek sebahu tersenyum padanya saat bayangan mengenai Kyuhyun mengisi seluruh kepalanya. Wanita itu menghampiri Songjin. “Kau Park Songjin?” tanyanya. Itu adalah suara wanita paling merdu yang pernah Songjin dengar sepanjang hidupnya. Wanita itu memiliki tinggi jauh jauh jauh melebihi dirinya.

Bentuk tubuhnya mengerikan. Songjin seolah menemukan bahwa seperti itulah tubuh para Victoria angles selama ini. Lekukan pinggang itu adalah lekukan yang menjadi dambaan jutaan wanita diplanet ini. Belum lagi panjang kakinya. Bentuk rahangnya. Bentuk matanya. Warna bola matanya. Untuk beberapa saat saja Songjin merasa bahwa ia baru saja bertemu dengan salah satu bidadari Tuhan.

Jika wanita jenis ini yang selalu berada disekitar Kyuhyun, maka sudah jelas dirinya pasti kalah telak bahkan sebelum pertandingan dimulai.

Songjin terkejut saat wanita itu menjulurkan tangan padanya. “Amy.” katanya sangat ramah. “Amy Johansson.”

“Park Songjin.”

“Aku tahu.”

Tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Songjin terkejut Amy sudah mengenalnya dihari pertama mereka bertemu sedangkan Amy, wanita itu– diam menonton ekspresi terkejut Songjin. Ia kemudian tertawa renyah sambil menggelengkan kepala, sadar mengapa Kyuhyun menyukai Songjin.

“Apa kau selalu memberi wajah seperti itu kepada orang yang baru kau kenal?”

“Huh?”

“Kau lucu kau tahu itu?”

“Kau bisa berbicara bahasa Korea?” menyadari sedari tadi mereka bercakap dalam bahasa Korea, Songjin semakin terkejut. Matanya berkedip lambat dan rahangnya hampir terbuka lebar.

“Aku rasa aku tahu mengapa Kyuhyun ingin menikah denganmu. Kau–“ putus Amy beberapa saat. Ia memerhatikan Songjin saksama kemudian melanjutkan “Semua orang ingin mendapat hiburan menarik setelah lelah bekerja seharian penuh, ya ya ya aku mengerti sekarang.”

Je suis désolé?” Songjin menoleh kebelakang mencari Kyuhyun. Kini ia benar-benar ingin tahu percakapan pekerjaan seperti apa yang perlu melibatkan dirinya hingga wanita ini mengetahui apa yang tidak diketahui tentang dirinya sendiri.

Tetapi Kyuhyun sedang bersama ayahnya dan ayah pria itu sendiri, diapit, sedang mencermati sebuah prototype kapal saksama dan sedang dalam sebuah percakapan serius mengenai ukuran, tinggi kapal dan sebagainya.

“Oh you speak French!” Amy mengangguk. Ia baru memahami mengapa Park Seul Gi menanyakan Paris collage of art siang tadi. “étudiant, non?”

“Oui”

“Art?”

Songjin mengangguk tanpa bersuara. Ia kembali menoleh kebelakang mencari bantuan, namun saat mendapatkannya, Kyuhyun hanya menatapnya tak lebih dari beberapa detik saja. Pria itu kembali bergabung pada kerumunan laki-laki tua dalam pembicaraan uang.

Songjin mengerang. Dalam keterkejutannya diam-diam ia merasa panic. Ia menggerakkan kaki untuk berjalan mundur selangkah demi selangkah. Saat sadar punggungnya menubruk sesuatu, yang dipastikan adalah ayahnya, Songjin berbisik tanpa menoleh: “Appa, wanita cantik disana aneh sekali. Dia mengenalku, padahal kami baru bertemu malam ini.”

Mata Songjin tidak lepas dari Amy. Wanita cantik itu menggandeng tangan laki-laki yang Songjin yakini adalah warga local. “Appa kau dengar aku?”

“Excusez-moi?”

“He?”

“Sayang!” Songjin terkesiap– melompat saat mendengar suara sang ayah terdengar bukan dari belakang punggungnya. Ayahnya berada dua ratus meter dibelakang samping kanannya. Memandanginya terheran-heran. “Apa yang kau lakukan dengan orang itu? kau mengenalnya?”

Jantung Songjin berdegup kencang. Saat ia memutar tubuh, degub itu terasa semakin menjadi saja menyadari orang itu bukan ayahnya. Ia segera membungkukan badan sambil meminta maaf tergesa meski tampaknya, laki-laki tua korbannya tadi tidak merasa terganggu atas sikapnya, dan malah menanggapi kegugupan Songjin hanya dengan tawa dan dua ibu jari mengacung. Songjin bergegas menuju ayahnya– langsung menggandeng tangannya.

“Tadi itu menyeramkan.”

“Kupikir kau mengenal orang tua itu. Kalian terlihat seperti teman lama.” Ledek Choi Ki Ho memukul tumpukan brosur miliknya pada bahu Seul Gi. Dua orang itu tertawa lepas bersamaan.

“Kupikir kau sedang menggodanya.” Tambah Kyuhyun kemudian tiba-tiba berada dihadapan Songjin berdiri menjulang tinggi membuat Songjin terasa menciut seketika. “Dia terlihat senang sekali kau tempeli begitu.”

“Kenapa kau terlihat tidak suka, Kyuhyun-ah? Kalau kau mau kau bisa menempel pada wanita ditempat ini juga. Jika itu masuk dalam seleramu.” Choi Ki Ho memberi ledekan lain disertai gelak tawa Park Seul Gi namun tak sadar berakibat fatal pada putranya. Kyuhyun seketika membatu ditempat. Melirik Songjin canggung, saat gadis itu diam memandanginya.

Kyuhyun dapat dengan cepat mengendalikan suasana. Ketika ia dihadapkan pada tiga pasang mata yang menaruh penuh harapan padanya ia memutar bola mata dan melengos, “Kalian terlihat senang sekali” katanya “mari kita lihat satu jam lagi saat istri-istri kalian sampai disini. Aku menunggu tawa seperti itu muncul lagi.”

Empat jam berada didalam pameran yang sesungguhnya ia tak tahu apa-apa mengenai hal tersebut membuat Kyuhyun cepat dilanda rasa lelah. Kelelahannya seolah bertambah puluhan lipat saat ia tak melakukan kegiatan apapun, lalu teringat bahwa ia masih mempunyai urusan tertinggal, bersama Songjin.

Gadis itu agaknya sama tidak mengerti apa-apa disini, tetapi Songjin menikmatinya. Kyuhyun menemukan Songjin berdiri bersama enam orang turis local, yang sedang diberi penjelasan mengenai sebuah kapal pesiar jenis baru– yang memiliki rencana perjalanan menuju Italia dalam waktu dekat.

“Aku tidak mengerti apapun yang orang itu katakan, kau mengerti?” Bisik Kyuhyun ditelinga Songjin.

Songjin memberi anggukan tanpa menoleh. Mata Songjin terpaku pada prototype kapal dihadapannya. Kapal tersebut memiliki dominasi warna hitam dan merah. Secara takasat mata, kapal tersebut tampak seperti Titanic. Semoga tak karang ditengah jalan. Namun kemegahan kapal itu terlihat jelas meski baru pada sebuah prototype.

Kyuhyun diam memikirkan sejak kapan Songjin menguasai bahasa lain selain bahasa ibu mereka. Selama ini Songjin tidak terlihat seperti itu. Maksudnya, tidak terlihat secerdas itu untuk memahami beberapa bahasa dalam otak minimnya. Lagipula sikap gadis itu juga tidak mencerminkan bahwa ia sanggup menguasai beberapa bahasa sekaligus. Jelas bukan salah Kyuhyun.

“Kapal itu memiliki sepuluh lantai.” kata Songjin membisiki Kyuhyun setelah pria dihadapan mereka berhenti bicara memberi jeda. Kyuhyun segera mendekatkan dirinya pada Songjin. Setengah merunduk untuk mendekatkan telinganya pada kepala gadis itu. “awal tahun nanti mereka akan melangsungkan perjalan ke dua ratusnya.”

“Dua ratus?”

“Ya.”

“Jumlah itu terdengar tidak banyak.”

“Ya. Mereka perusahaan baru.”

“Ohya?”

“Ya. Team design interior kapal itu pernah menjadi salah satu team dari peneliti kapal Titanic. Karena itu mereka membuat dekor nyaris serupa dengan Titanic.”

“Menarik. Apa mereka akan meniru karamnya juga?”

Songjin baru menoleh cepat. Memberi pukulan ringan pada bahu Kyuhyun sekuat tenaga hingga Kyuhyun merintih, namun tak lama Kyuhyun memberi cengiran lebar. “Mereka akan melakukan perjalanan ke dua ratus mereka besok, Kyuhyun-ah!” pekik Songjin.

Kyuhyun mengangguk-angguk menyimak. Ia tidak tertarik dengan lelaki yang berpidato panjang lebar dihadapan mereka. Juga pada prototype yang Songjin kagumi. Ia lebih tertarik menonton Songjin serius menyimak penjelasan salesman kapal pesiar itu.

“Mereka akan melakukan perjalan mereka ke Italy besok pagi.” Mata Songjin tampak berbinar. “Perjalanan pertama dilakukan dari Australia, okay, dia baru menjelaskannya sekarang bagian itu.” Songjin kecewa selama beberapa saat. Lagi-lagi Kyuhyun tertawa.

“Mereka tidak mungkin melakukannya dari sini. Jarak Perancis Italia tidak cukup jauh untuk ditempuh dengan sebuah kapal pesiar mewah, bodoh.”

Songjin mendengus membalas “aku tahu” kemudian bersedekap. “Aku tidak peduli dengan jaraknya. Aku tertarik dengan–“

“Negara tujuannya.”

Tawa Songjin perlahan mengurai “ya.” ucapnya setelah itu. “Aku tertarik dengan negara tujuannya. Kau tahu, aku sempat berpikir untuk mengunjungi Italia setelah masa study ku berakhir disini. Libur musim dingin masih tersisa cukup banyak.”

Alis Kyuhyun meranjak naik sesaat, “kenapa aku tidak terkejut?” tanyanya memamerkan wajah sarkas. “Apa pernikahan kita juga harus digelar disana?” lalu wajah sarkas tadi tidak bertahan lama. Kyuhyun benar-benar serius melontarkan pertanyaan kini. Kepalanya semakin ditundukkan kali ini.

“Apanya?” Songjin seketika terkejut.

“Pernikahan.”

Tenggorokan Songjin perih. Terasa tercekat tiba-tiba. “Pernikahan– si..apa?” tanyanya ragu. Tetapi Kyuhyun tampak santai saat mengatakan “Kita. Pernikahan kita.” membua dua lutut Songjin mendadak kuyu.

Songjin terpekur sesaat “Kau serius dengan itu?” Itu yang dimaksudnya adalah rencana mengerikan kedua orang tua mereka. Yang sesungguhnya tidak tampak mengerikan bagi Songjin. Kebalikannya malah. Ia sangat senang. Tapi beberapa saat lalu Kyuhyun jelas memberi tahu banyak isyarat padanya bahwa ia tidak suka.

Saat kepala Kyuhyun mengangguk satu kali. Perlahan tapi pasti, Songjin segera menghebuskan napas panjang dan berat. Kyuhyun menariknya lebih dekat. Memutar tubuhnya menghadap kerumunan dimana orang tua mereka berada saat ini.

“Kau lihat betapa bahagianya mereka?”

“– ya.”

“Aku akan sangat berhutang budi padamu jika kau bersedia melakukan ini, Songjin. Aku harus melakukan sesuatu. Untuk ayahku. Kalau bukan karenanya, sekarang aku tidak akan berada disini. Aku–“ Songjin mendengar suara Kyuhyun tersendat. “Aku mungkin berada di Korea. Di dalam sebuah café. Menjadi penjual kue atau bartender. Atau parahnya, aku hanya menjadi Cho Kyuhyun didalam panti. Menurutmu?”

Songjin berbalik, memandang Kyuhyun lumat. Beberapa jam yang lalu pria itu sendiri menyatakan bahwa ide perjodohan orang tua mereka konyol. Beberapa jam yang lalu mereka nyaris membuat kesepakatan tak tertulis bahwa akan membatalkan rencana itu dan satu bulan lalu tepatnya, Kyuhyun mengatakan secara tersirat bahwa ia tidak tahu menahu mengenai rencana tolol orang tua mereka.

Mendengar tawaran Kyuhyun saat ini, Songjin tak tahu lagi harus merasa senang atau sedih. Dia bisa merasa senang karena imaginasi mengenai biduk rumah tangga fantasinya mungkin akan menjadi nyata. Tetapi memahami alasan dibelakangnya, rasanya fantasi itu tak akan menjadi semenarik itu lagi.

— — — 0 0 — — —

Songjin mendengar jelas namanya disebut-sebut oleh segelintir orang. Ayahnya, Choi Ki Ho dan Kyuhyun mengekorinya dari dalam gedung pameran. Ia berbalik cepat menjelaskan kepada 3 laki-laki disana bahwa ia tidak bisa berada ditempat itu terlalu lama karena besok ia memiliki kelas pagi, meski sesungguhnya bukan itu alasannya pergi.

Ia segera melesat pergi usai Kyuhyun memberi penjelasan mengenai persoalan hutang budi. Menyadari terdapat alasan lain mengapa Kyuhyun seolah memberi paksaan supaya pernikahan mereka tetap berlangsung, adalah hal menyakitkan serta mengganggu lainnya.

Ia mendengar suara ayahnya lagi. Cepat-cepat Songjin menarik napas dalam. Membiarkan udara dingin sekitarnya menjadi oksigen tambahan bagi paru-parunya supaya ia tidak menumpahkan air mata dipinggiran jalan seperti ini. “Kuhubungi besok pagi?” tawarnya pada sang ayah.

Pria itu terdiam. Berpikir. Berpandangan dengan sahabatnya, kemudian memberi anggukan kaku bersama Choi Ki Ho. Memberi senyuman pada Songjin dan pesan untuk berhati-hati dijalan, keduanya kembali ke dalam gedung dalam perasaan tenang.

Atau berpura-pura tenang. Apalah itu. Mereka pasti sadar jika kali ini adalah versi lain dari keributan anak muda yang mereka tak tahu apa– juga tak ingin tahu lebih banyak sadar itu bukan urusan mereka.

Namun tidak dengan Kyuhyun. Pemuda itu masih diam ditempat. Ketika dua laki-laki separuh baya kawanannya kembali ke dalam, Kyuhyun masih mencoba membuat Songjin tetap berada di pameran itu bersamanya.

“Aku salah bicara lagi ‘kan?” tanyanya lugu bercampur perasaan pasrah. Ia tahu saat ini apapun yang dilakukan dan dikatannya memiliki risiko jauh lebih tinggi daripada hari-hari sebelumnya ketika mereka belum memiliki keributan awal, beberapa pekan lalu.

Posisinya sudah ditepi jurang. Ia akan selalu menapaki bahaya, seberapapun ia sudah berhati-hati. “Kau tidak ingin melakukannya?” sambung Kyuhyun pelan. Tubuhnya terasa ringan. “Kau, tidak ingin menikah. Denganku?”

Namun seluruh pertanyaannya hanya menari di udara saja. Songjin tidak menolak, juga tidak menyetujui. Gadis itu mengatakan berulang kali akan memikirkannya lagi, dan menjelaskan bahwa ia harus segera kembali. Mengenal Park Songjin belasan tahun membuat Kyuhyun sadar bahwa Songjin sedang mencoba untuk menghindarinya lagi.

Untuk apapun kesalahannya saat ini. Meski ia tidak paham apa-apa. Kyuhyun tahu, Songjin mencoba menghindarinya lagi. Terakhir kali gadis itu mencoba menghindar mereka tidak berhubungan sama sekali satu bulan penuh. Gadis itu pergi tanpa memberitahu apa-apa dan ternyata ia berada disalah satu negara Eropa.

Jika kali ini Kyuhyun melepaskannya begitu saja, bukan tidak mungkin gadis itu akan pergi lagi lalu tiba-tiba ditemukan di Tibet sana, atau Timbuktu. Songjin selalu seperti ini sejak dulu. Ia akan melakukan ini, selalu. Songjin memiliki kecenderungan menghindari permasalahan. Bukan menyelesaikan. Hanya menghindari saja.

Dia pergi berharap permasalahan miliknya akan mereda sendirinya jadi nanti ketika ia kembali semua sudah kembali pada porosnya. Tidak ada keributan. Masalah selesai. Sedangkan Kyuhyun bukan tipe seperti itu. Kyuhyun tahu, bahwa pergi hanya akan menunda permasalahan, yang mungkin akan menjadi semakin lebih besar nanti saat ia kembali.

Dia bisa mati penasaran jika Songjin benar-benar akan melakukannya lagi. Pergi mendadak tanpa memberi penjelasan apapun. Meminta saran apalagi bantuan dari siapapun tak akan membantu. Kyuhyun tidak akan lupa dirinya selalu menjadi bulan-bulanan ayahnya dan ayah Songjin. Bahkan itulah yang terjadi dalam tadi beberapa menit yang lalu, ‘kan?

Tepat saat ia berencana untuk menghentikan Songjin lagi. Meminta, setidaknya satu-dua alasan mengapa Songjin tampak menolak mentah-mentah tawaran menikah dengannya, Kyuhyun merasa tubuhnya semakin ringan.

Kakinya menginjak tangga batu yang telah tertutup lapisan es. Terakhir kali yang diingatnya, punggungnya membentur tangga batu tersebut.

— — — 0 0 — — —

“Halo.” Laki-laki dengan rambut oranye mengilat itu mengenakan nametag bertuliskan ‘Francis Yodd’. Kyuhyun segera menyakini bahwa Francis Francis ini adalah seorang dokter karena 2 hal.

Pertama: Laki-laki itu menggunakan jubah putih dokter. Dan kedua: ada sebuah stetoskop dilingkar lehernya. Laki-laki itu juga membawa senter kecil, atau ballpoint entah ia harus menyebutnya apa, benda itu diacung-acungkan pada matanya.

“My name’s Francis Yodd, I’m your doctor today, please, can you follow my lead, Mr.Cho?”

Kyuhyun terpekur diam. Ia bukan tidak mendengar jelas dokter tersebut berbicara padanya dalam bahasa inggris yang sangat cepat. Ia hanya sedang terlalu bingung. Kyuhyun menatap dokter dihadapannya. Pria itu mengacung-acungkan jari telunjuk tepat didepan matanya, namun Kyuhyun segera menyingkirkannya cepat.

Kyuhyun menyapu ruangan tempatnya berada cepat menggunakan matanya. Ia tidak menemukan siapapun kecuali 2 orang lain selain dirinya dan dokter tersebut. Seorang perawat plus papan jalan, dan Songjin yang berdiri menyudut didekat tabung oksigen.

Kyuhyun terkejut melihat Songjin menangis, mengigiti shawlnya. Gadis itu seperti kehabisan tenaga. Wajahnya hanya terlihat sampai dimata. Songjin sengaja menutupi, sepertinya ingin menyamarkan tangisannya yang mana adalah pilihan bodoh karena semua orang pasti tahu ia sedang menangis.

“Hai,” Kyuhyun berusaha menyapa Songjin. Mencoba menegapkan duduk diatas ranjang, namun rasa nyeri dikakinya segera menyerang. Kyuhyun merunduk mengamati kakinya. Di pergelangan kaki sebelah kanannya terdapat bebat kasa. Kyuhyun tidak ingat dia menubruk mobil atau kendaraan besar lain terakhir kali ia menyisakan kesadarannya.

Sadar ia tidak bisa menghampiri Songjin, Kyuhyun mengulurkan tangannya. Tetapi ia malah terkejut melihat bebat lebih banyak ditangan kanannya. Kain kasa ditangan kanannya melingkar mengisi seluruh lahan kosong hingga siku. Kyuhyun berdecak. Mengumpat seluruh umpatan yang bisa dimuntahkannya.

“Kenapa disana?” lanjutnya bertanya pada Songjin kemudian namun Francis, dokter didekatnya melarang dirinya untuk berganti posisi terlalu cepat. Francis membantunya duduk perlahan-lahan.

“Mr.Cho?”

“Yes?”

“Can you see me?”

“Yeah, my eyes are still functioning properly. Is that bad?” Kyuhyun membalas sarkas selagi Francis mengacungkan telunjuknya lagi tak menanggapi kesinisan Kyuhyun. Dokter bermata biru terang itu tersenyum ramah, “Can you see my finger right here?”

“I said my eyes are still–“

“Great.” Francis menyela. “How much did you see my finger?”

“Finger. That’s a plural. I guess, one?”

“Not guessing, please. How much did you see?”

“Then, is that singular?”

Kyuhyun menghelakan napasnya dalam-dalam. Begitupula Francis. Agaknya Kyuhyun adalah satu-satunya pasien yang paling menyebalkan miliknya hari ini. Usai perdebatan panjang pada akhirnya Kyuhyun mulai mengikuti kemana telunjuk Francis bergerak. Ke kiri, ke kanan. Atas dan bawah. Francis menyalakan lampu dari senter, atau ballpoint, atau apalah itu namanya– menyorotnya langsung pada matanya.

Butuh dua puluh menit bagi Kyuhyun untuk mengikuti apa perintah dokter muda tersebut hingga keputusan bahwa dirinya baik-baik saja, dan memang seperti itulah yang Kyuhyun sadari. Ia mendengus keras merasa bahwa beberapa hal yang dilakukannya tadi hanyalah sebuah lelucon.

“I guess I’m fine, right?”

“Indeed, Mr.Cho. Indeed.” Francis tersenyum. Pun kepada Songjin, sadar mengapa pasiennya menjadi menyebalkan, mungkin karena gadis disudut ruangan itu terus-terusan menangis sejak pertama ia datang kemari.

Francis lalu mendekatkan wajah pada Kyuhyun. Berbisik supaya Songjin tidak mendengar lebih banyak percakapan mereka. Ia tidak tahu bahwa Songjin tidak bisa memahami percakapan mereka bahkan sejak tadi. “But sadly not that fine with your right wrist and ankle.” ia melirik lengan Kyuhyun. “sadly, I must say you have to deal with cantilever at least until the next three months. Its not okay for your girlfriend, to hear, right? I’m so sorry to hear that Mr.cho.”

Kyuhyun mendengus, “fiancée.” ralatnya menyelipkan kebanggan serta anggukan pasti. Menyisipkan teguran ketus, back off.” Meski dokter muda itu tak paham mengapa pasiennya perlu melakukan hal seperti itu. Seperti ia akan mencuri gadis pria ini atau apa. Berlebihan.

— — — 0 0 — — —

Kyuhyun membatu saat telah memahami situasi. Sekitarnya menjadi dingin penuh ketegangan pada apa yang ia tak tahu alasannya. Kyuhyun melihat ayahnya memegang sebuah kursi roda, ia yakin itu pasti untuknya mengingat kondisi kaki dan kini ia bahkan bersandar pada tubuh tak seberapa besar Songjin.

“Kau baik-baik saja?” garis alis yang turun membuat Kyuhyun sadar tak ada siapapun diruangan itu yang merasa baik-baik saja. Pun tidak dengan dirinya meski ia juga tidak senang diperlakukan bagai korban tabrak lari sebuah bus tingkat.

Kyuhyun mengangguk. Ia tak sampai menjawab pertanyaan Ki Ho saat menyadari ibunya berjalan cepat menujunya dari ujung lorong. “Kau memberitahu eomma?”

Wajah pasrah ditunjukkan Choi Ki Ho setelahnya. Pria itu menggerakkan bahu pelan “aku panic.” ucapnya baru menyadari bahwa pilihannya adalah salah. Istrinya tak perlu tahu itu yang semestinya terjadi. Mereka sama-sama tahu wanita empat puluhan itu bisa menjadi luar biasa berlebihan ketika memberi tanggapan pada apapun yang terjadi disekitarnya.

Maka sebelum ibunya benar-benar memuntahkan kata-kata panjang, berbelit dan tidak bisa dihentikan, Kyuhyun lebih dulu menyela. Mengatakan “aku baik-baik saja. Hanya terkilir dan sedikit retak pada pergelangan tangan. Semua akan membaik dalam tiga bulan. Jangan-ada-air mata. Tolong.”

Kyuhyun memandang ibunya saksama usai berbicara. Lalu bergeser pada Songjin. Dua wanita itu biasanya selalu memberi reaksi berlebihan. Selalu. “Aku tidak akan mati.” lanjut Kyuhyun. “Tidak dalam waktu dekat.”

Kyuhyun mendapati ibunya memberi anggukan. Tidak sepatah katapun akhirnya sempat wanita itu katakan. Kyuhyun menghela napas lega. “Aku ingin bertanya sesuatu.” kata Kyuhyun sebelum salah satu dari mereka memberikan ide seperti ‘mari kita makan malam bersama menuju restoran A!’ “apa aku boleh tidak ikut acara apapun yang kalian akan rencanakan setelah ini?”

Seul Gi satu-satunya orang yang langsung paham pada apa keinginan Kyuhyun. Pria itu berdehem mengangguk. Melingkarkan lengan pada bahu ayah Kyuhyun berkata “biarkan Kyuhyun istirahat malam ini. Besok kita bisa bertemu lagi atau saat pesta kembang api dimulai.”

“Pesta kembang api?”

“Ya. Besok hari terakhir ditahun ini kau lupa? perayaan tahun baru pasti akan sangat meriah ditempat ini!”

Tarikan nafas lega kembali Kyuhyun keluarkan. Dia berhutang banyak terimakasih pada Park Seul Gi. Setelah pria itu membuat dirinya keluar dari mulut buaya– ibunya, pria itu menyuruh Kyuhyun segera hengkang dari rumah sakit tanpa kursi roda ide Choi Ki Ho.

Satu setengah jam setelah itu Kyuhyun dan Songjin telah berada di The Plaza Hotel. Sambil berjalan tertatih, Songjin menolak halus bantuan dari petugas keamanan disana untuk membopong Kyuhyun. Membawa Kyuhyun dalam keadaan seperti itu memang merepotkan tetapi dalam kondisi lain, Songjin menyukainya entah karena apa.

Mungkin karena tubuhnya bisa leluasa mengapit tubuh Kyuhyun. Mungkin itu memberinya alasan untuk memeluk serta menghidu aroma tubuh Kyuhyun sebanyak-banyaknya. Dia bukan sedang bersenang-senang diatas penderitaan Kyuhyun tetapi ini benar-benar terasa seperti dilempari batangan emas setelah kemiskinan belasan tahun.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Kyuhyun setelah mereka sampai di dalam lift. Songjin mengangguk, menengadahkan kepala menghadapnya. “Apa kau baru saja tertawa?”

Songjin mengedikkan bahu lantas Kyuhyun mendesah panjang “kau menertawaiku karena aku terlihat seperti orang yang baru diamputasi kakinya?”

“Tidak.” Tawa Songjin lepas kemudian. “Ayahmu menawarkan kursi roda tadi.” Songjin mengingat jelas wajah Choi Ki Ho saat dirinya dan Kyuhyun baru keluar dari ruang rawat. Semua orang berkumpul di depan pintu tetapi Songjin harus mengakui, seseorang yang memiliki persiapan paling banyak ialah ayah pria ini.

Mengingatnya Kyuhyun tersenyum sekilas. Senyuman itu lalu berubah menjadi tawa ketika dirinya ingat seperti apa raut kecewa ayahnya ketika ia menolak menggunakan kursi roda. Lalu respond ibunya saat ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

Wajah wanita itu tidak terlihat percaya bahwa putranya memang baik-baik saja. Ia hanya mengangguk setuju untuk tidak memberi pertanyaan atau tindakan lain supaya Kyuhyun tidak marah dan mungkin malah menjauhkan diri dari semua orang.

Kyuhyun masih mendengar sisa tawa Songjin. Sepertinya, gadis itu senang sekali pada kesialan dirinya kali ini. “Dan kau jatuh.” ujar Songjin. Tawanya menggema di dalam lift.

“Terpeleset.” koreksi Kyuhyun.

“Jatuh.”

“Aku menginjak es! menurutmu?”

“Jatuh.” kekeh Songjin. Ia menjulurkan lidah mencibir kemudian mengencangkan lingkar tangan pada pinggang Kyuhyun. Yang tidak diketahui Songjin, membuat Kyuhyun merasakan senang bukan main, hanya karena hal sederhana itu saja.

“Aku lupa bertanya. Dimana kamarmu? di Hotel ini ‘kan?”

“Yeah.”

“Lantai? nomor?”

“Dua enam–“ Kyuhyun menutup mulutnya– melirik Songjin segera setelah menemukan ide cemerlang; menurutnya– lagi.

“Sebaiknya aku bermalam ditempatmu. Lihat kaki dan tanganku. Aku tidak bisa melakukan banyak hal sendirian. Aku butuh bantuan. Karena kau yang menyebabkanku seperti ini, kau harus jadi kaki tanganku!” perintah Kyuhyun memaksa.

“Memangnya apalagi salahku?” Songjin bergumam. “Kau bahkan berdiri beberapa meter dihadapanku. Aku tidak menyentuhmu sama sekali.” ia menggerutu tak senang, meski gembira karena tahu Kyuhyun akan bergantung padanya selama beberapa saat.

— — — 0 0 — — —

Songjin sudah menghitung apa-apa saja yang Kyuhyun perlukan sampai ia kembali siang nanti. Ada roti gandum dimeja makan. Beberapa lembar sudah dipanggang. Sudah dilapisi selai cokelat, kacang dan strawberry.

Minuman telah ditata sedemikian rupa dilemari pendingin bagian paling depan. Ia juga tidak lupa untuk melonggarkan tutupnya supaya Kyuhyun bisa membuka dengan mudah. Songjin meninggalkan air mineral lebih banyak jumlahnya daripada minuman berwarna lain seperti jus atau susu.

Dia membabat kopi dan soda. Memasukannya ke dalam bagian paling belakang dilemari pendingin supaya Kyuhyun sulit membukanya. Pada akhirnya Songjin menolak untuk membiarkan Kyuhyun bermalam di kamarnya.

Ia yang bermalam di kamar pria itu sementara waktu. Sampai Kyuhyun tertidur, Songjin segera kembali ke kamarnya. Pagi-pagi sekali Songjin sudah berada dikamar Kyuhyun lagi jadi Kyuhyun sama sekali tidak menyadari jika dirinya sempat berada seorang diri saja dikamarnya.

Obat-obatan Kyuhyun sudah Songjin letakkan diwadah-wadah tertutup. Kyuhyun hanya perlu mengambilnya per wadah tiap akan meminum obat.

Dan pada akhirnya, Kyuhyun harus menerima fakta bahwa ia membutuhkan kursi roda. Ia sepakat menggunakan kursi roda itu hanya di didalam kamarnya saja untuk berkeliling kesana kemari. Diluar itu, Songjin bertanggung jawab atas tubuhnya.

Itu masuk akal dan cukup menguntungkan bagi Kyuhyun. Bagi kedua belah pihak sebenarnya meski sayangnya mereka enggan mengakui. Mereka sama-sama senang atas kemalangan yang seharusnya diratapi serius sebagai kesedihan. Hari terakhir di akhir tahun malah mendapat kesialan. Bukankah itu sebuah pertanda buruk?

Siapa peduli? selalu begitu pikir Kyuhyun.

Di dalam kamar, Songjin menata pakaian yang akan Kyuhyun kenakan setelah ia mandi nanti. Padahal Kyuhyun masih berpikir bagaimana caranya ia mandi nanti. Apa kursi roda keparat itu masih juga harus ikut-ikutan masuk? Mengganggu sekali.

Mandi serupa pertempuran bagi Cho Kyuhyun sekarang. Begitulah yang semalam dilakukannya.

Tapi tidak mungkin ia juga meminta bantuan Songjin untuk memandikannya. Itu jenis bantuan yang terlalu ekstreem. Kyuhyun bahkan tidak sanggup mengontrol kegugupannya saat Songjin membantunya memasang dan menanggalkan pakaian untuknya, tadi pagi dan semalam.

Jantungnya seolah akan meledak. Ia bernapas bagai naga, begitu prediksi Kyuhyun tadi yang membuatnya merasa malu selama beberapa saat, tak bisa menatap Songjin terlalu lama karenanya. Ia mengusahakan agar bisa memasang celana seorang diri dengan upaya super duper keras.

Karena itu ia menghubungi Siwon yang sedang berada di Monte Carlo karena sedang mempelajari sistematis perijinan pembangunan gedung untuk datang lebih cepat daripada jadwal yang semestinya ditentukan. Dia butuh bantuan, dari jenis kelamin yang sama. Bukan Songjin.

“Aku akan kembali pukul dua. Jadi–“

“Dua?!” Kyuhyun membelak terkejut. Sesungguhnya reaksinya berlebihan. Kyuhyun menyadari itu namun sepertinya songjin terlalu bodoh untuk menyadarinya. Gadis itu malah menanggapi terlalu serius saat ia menanyakan “Kau ingin aku mati kelaparan?”

“Aku sudah menyiapkan roti!”

“Jadi sampai pukul dua nanti. Tujuh Jam lagi, aku hanya bisa memakan roti gandum dengan selai?”

“Aku ada kelas.”

“Aku juga ada pekerjaan yang harus kulakukan!”

“Tapi kan aku lebih–“

Songjin terdiam ketika Kyuhyun hanya menghela napas panjang begitu perlahan. Menyandarkan punggung pada kursi lagi sambil menaikan satu alisnya tinggi. Ia menggeram, “baiklah baiklah. Aku kembali sebelum makan siang!”

“Bagus. Percepat lagi kalau bisa.”

“Tidak bisa.”

“Aku selalu menemanimu saat kau sakit, Park Songjin!”

Lagi-lagi Songjin menggeram kencang. Kali ini kakinya menghentak lantai karpet kencang sambil mengutuk apa saja disekitarnya.

— — — 0 0 — — —

Pukul setengah sebelas Songjin sudah kembali. Kyuhyun sudah mengenakan pakaian formal tanda bahwa ia telah siap pergi. Pukul dua belas siang Songjin menemukan dirinya berada di dalam kerumunan pebisnis dalam pembicaraan uang, kapal pesiar, pariwisata dan tourism.

Ia berusaha menikmati suasana dengan menyicipi hampir seluruh makanan yang ada dibuku menu. Tidak ada satupun orang yang mempedulikan dirinya akan makan sebanyak apapun. Lagipula ibunya sedang tidak disini.

Para ibu sedang memutari Bercy Village berbelanja sepuasnya saat suami suami mereka sibuk pada obsesi mengeruk uang disana sini. Songjin sampai pada menu ke tujuh ketika ponselnya bergetar.

Ada nama Kyuhyun tertera dilayar. Pesan pria itu hanya satu kata saja. Satu kata tanya.

Bosan?

Songjin mengangkat kepala buru-buru mencari pria itu yang duduk hanya berbeda satu kursi saja dengannya. Kyuhyun tampak saksama berdiskusi bersama dua orang laki-laki local yang Songjin ketahui tadi ketika pertama kali datang bernama Antonio dan Thomas.

Songjin menjawab pertanyaan Kyuhyun tadi hanya dengan anggukan– tentu saja Kyuhyun tidak mengetahuinya. Ia menyibukkan diri pada soup labunya saja, sampai pesan kedua datang.

Kenapa cemas? soup labu mu kurang banyak?

Songjin segera mendengus usai membaca. Tanpa melirik pada pengirim Songjin menggerakkan jari-jarinya diatas ponsel miliknya sangat cepat.

Aku harus berada di museum kota pukul 1 tepat, dan lihat sekarang dimana aku berada. Kau membuatku menjadi pelajar yang malas.

Setelah mengetikkannya, Songjin baru menoleh pada Kyuhyun. Ia memberi ulasan senyum pada pelayan yang menawari wine. Wine bisa membuatnya ling-lung. Berhubung dia sedang menjadi pesuruh sementara, ada baiknya ia menjauhkan diri dari alcohol.

Ponselnya bergetar lagi tak sampai dua menit.

Kalau begitu ayo.

Balas Kyuhyun. Songjin mendongak, mendapati pria itu sudah memegang jasnya. Songjin membelakkan mata lebar-lebar memberi pertanyaan ‘kau mau apa?’ kepada Kyuhyun tanpa bersuara apapun.

Melihat Kyuhyun sepertinya benar-benar sudah bersiap pergi, Songjin tidak mempunyai pilihan lain selain hengkang dari kursi. Berpamitan pada Ayahnya serta Ayah Kyuhyun dan berjanji akan menemui mereka di hotel mereka nanti malam.

“Jadi aku harus ke museum kota, denganmu?”

Mata Songjin mengarah pada kaki dan tangan Kyuhyun dalam balutan kasa. Tangan pria itu sedang dalam gips penuh dan bayangkan membawa orang semacam ini mengelilingi museum kota. Bukankah ini bisa disebut semi bunuh diri?

Lalu seolah menyadari penolakan Songjin, Kyuhyun menghela napas “aku bahkan belum menggunakan tongkat dan rabun tapi kau sudah bosan denganku.” cibirnya terdengar sinis namun sarat akan godaan.

Kyuhyun berjalan pincang mendekati Songjin. Ia melepaskan kursi sebagai tumpuannya saat gadis itu terlihat tidak ingin lagi mendebatnya. Ia segera melingkarkan lengan tangan kirinya pada bahu Songjin. Senyuman lebar lantas mengukir.

“Ayo!” katanya riang. Serupa bocah ditaman kanak-kanak yang akan pergi berwisata.

— — — 0 0 — — —

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam. Tidak ada yang salah dari aroma Muséé d’Orsay, meski bangunan museum ini telah berdiri sejak tahun 1898 dan tentu segala isi serta lekuk tembok sejauh mata memandang, adalah ukiran lama.

Bukan itu yang membuat Kyuhyun sesak napas mendadak. Adalah isi dari museum ini tepatnya. Kyuhyun tak tahu menahu jika isi dari tempat ini mayoritas ialah patung artefak buatan pengukir pada masanya dahulu. Tempat ini menyimpan jenis patung yang pernah ia temui di Huitrerie Regis kurang lebihnya. Tanpa busana, memiliki otot tubuh sempurna, rambut ikal serta telanjang bulat.

Itulah masalahnya. Telanjang bulat. Dikala dirinya setengah mati canggung berada ditengah kumpulan patung tanpa busana, Songjin malah terlihat asik menikmati waktunya. Gadis itu melukis dalam diam dan sangat tenang selama berjam-jam.

Songjin benar-benar mengabaikan Kyuhyun. Gadis itu memasang headset yang tersambung dari ponselnya. Ia duduk bersila pada salah satu kursi batu tepat dihadapan patung telanjang bulat penuh otot hingga membuat Kyuhyun jengah.

“Tempat ini illegal.” kata Kyuhyun setelah melepaskan penyumpal telinga Songjin dan berbisik lembut padanya. Songjin mengeluarkan kekehan lebih pelan. Memberi raut wajah ‘kau dari planet mana sebenarnya’ kepada Kyuhyun namun pria itu tidak menggubrisnya.

“Ini illegal.” ulang Kyuhyun lagi. “Lihat patung itu. Dia tidak berpakaian. Dia bahkan sangat percaya diri menunjukan miliknya ‘kau tahu apa’ kupikir pemahat patung ini memiliki otak yang mesum.”

“Alexandre Charpentier?”

“Siapa?”

“Alexandre Charpentier. Kau baru saja mengatakan bahwa Alexandre Charpentier mesum.” Songjin terlihat tidak senang. “Hati-hati dengan mulutmu Kyuhyun-ah, tempat ini berisi penggemar koleksi Alexandre Charpentier. Salah bicara kau bisa dipasung sampai kering diatas menara Eiffel.”

“Kau salah satunya?” Kyuhyun menyenggol lengan Songjin.

Hal itu membuat Songjin gagal membuat sebuah garis lurus namun itu malah membuat Kyuhyun senang bukan main. Dia sudah mati bosan sejak tadi memerhatikan benda tidak bergerak berjam-jam. Apa kegiatan seperti ini yang Songjin selalu lakukan disini?

Jika iya, pantas saja dia bisa mendapatkan pertukaran pelajar. Hanya memelototi patung telanjang apa sulitnya?

“Aku bosan.” desah Kyuhyun membuang napas panjang menyandarkan kepala pada bahu Songjin. “kita masih lama?” tanyanya mengusapi perutnya sendiri “aku lapar.”

“Tadi kau tidak makan apa-apa di restoran?” Songjin tidak mengerti. Ada banyak sekali bekas piring di meja depan Kyuhyun tadi. Tetapi Kyuhyun menggeleng, lalu Songjin hanya bisa membuang napasnya lagi. Berat. Sangat sangat berat.

“Jadi kau juga belum meminum obatmu?”

“Nope,”

“Ada kumpulan patung wanita tanpa busana dibagian sebelah kanan. Kau bisa melihatnya sebentar kalau kau mau.”

Kyuhyun mendesis. Dia tidak berpikir akan tertarik pada patung tanpa busana meski itu berjenis kelamin wanita. Yang membuatnya tertarik hanya satu hal saja sejak awal dirinya mendatangi tempat ini dan tahu bahwa Songjin juga berada ditempat yang sama dengannya.

Berhubung semua orang memahami bahwa Paris adalah negara cinta (entah mengapa) jadi mungkin, adalah impian semua wanita untuk memiliki moment bersejarah atas kisah cinta mereka ditempat ini.

Berhubung para wanita mengadang gadangkan bahwa menara Eiffel adalah menara cinta (entah mengapa) jadi sebelum Amy memberi tahu bahwa jutaan lelaki melamar gadisnya di Eiffel restaurant, ide gila itu sudah pernah melintasi kepala Kyuhyun.

Hanya saja ini akan menjadi persoalan lain baginya. Bagaimana caranya membawa Songjin menuju Eiffel restaurant lalu melamar gadis itu tanpa membuat dirinya terlihat mengenaskan dan murahan. Terlebih, tanpa membuat Songjin takut lagi, dan kabur.

Terakhir kali Songjin kabur Kyuhyun terpeleset ditangga gedung opera tempat pameran kapal pesiar diadakan. Jika nanti rencananya benar-benar dilaksanakan, lalu Songjin menolak dan kabur, hal buruk lebih mengerikan bisa saja terjadi lagi.

Jika kali ini ia berurusan dengan ketinggian, siapa tahu nanti ia bisa melompat dari menara itu hanya karena panic mengejar Songjin. Itu benar-benar bodoh. Itu baru persoalan kesekian. Hal paling penting yang mesti dilakukannya untuk menjalankan misi tersebut adalah memesan satu meja di restaurant terkenal itu.

Mengingat malam ini adalah malam tahun baru, rasanya, tidak mungkin baginya untuk memesan secara mendadak. Mungkin ratusan orang diluar sana yang telah mendapat meja, telah memesan sejak enam atau tujuh bulan lalu. Jadi rencana lamar melamar itu sesungguhnya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Kalau begitu ayo minum obatmu.” Songjin menutup sketch book miliknya. Gadis itu baru setengah jalan dalam melukis patung mesum, begitu Kyuhyun menyebutnya. Saat Songjin beranjak bangkit dari duduk dan berdiri dihadapan Kyuhyun, ia hanya bisa diam membiarkan matanya berkedip kedip memberi waktu isi kepalanya bekerja.

“Kau sudah selesai?” tanya Kyuhyun kemudian. Songjin menggeleng. Memasukan buku sketsanya ke dalam tas lalu mengulurkan tangan. Saat Kyuhyun tak kunjung memberi uluran tangan, Songjin menggeram sambil mengutuk. Mencela Kyuhyun dengan sebutan “manja.” meski tetap mencoba menyelipkan tangan kanannya pada pinggang Kyuhyun.

“Tunggu dulu.” Sela Kyuhyun. “Aku tidak ingin ke café. Aku tidak ingin ke restoran manapun.” katanya separuh panic.

“Yeah? lalu obatmu?” sinis Songjin. Tetap membawa Kyuhyun pergi meski laki-laki tinggi itu memberontak kecil. “belikan saja aku roti. Atau apapun yang bisa kau jadikan makanan untuk mengonsumsi obat. Aku ingin makan. Tapi tidak sekarang. Maksudku, bukankah nanti malam adalah malam pergantian tahun?”

“Hmm.”

“Ayo pergi ke suatu tempat bersama.”

Kening Songjin segera membuat sebuah kerutan panjang. Ia berpikir keras pada tawaran Kyuhyun– mencernanya sampai kemudian ia baru memahami “kau sedang mengajakku kencan?”

“Hah?” Kyuhyun terkejut. Matanya membelak lebar. “Kencan?” ulangnya heran. Kyuhyun memerhatikan kepala Songjin yang mengangguk angguk. Lima jari dari tangan kiri gadis itu mengacung.

“Pertama: Ini malam tahun baru. Kedua: Kau mengajakku pergi. Ketiga: Kau laki laki dan aku perempuan. Dan ke empat: Kita pergi bersama.”

Kyuhyun kembali tertegun. Ia tidak tahu bahwa mengajak seorang gadis makan malam dimalam pergantian tahun adalah nama lain dari kencan? Bukankah mereka sudah melakukan hal semacam ini bersama? Jadi jika makan malam kali ini disebut kencan, bagaimana dengan tahun tahun sebelumnya?

Jadi hubungan macam apa sebenarnya yang sedang mereka jalani selama ini? Teman? tidak. Kyuhyun bahkan sadar saat ia masih bersama Gyuwon meski kerap menyingkirkan pendapat itu.

Hubungannya dengan Songjin terdengar sangat konyol untuk diberi label pertemanan. Tetapi masih terlalu dini juga canggung, untuk diberi label berpacaran. Mereka tidak berpacaran. Mereka hanya… berteman. Teman yang– entahlah.

“Aku tidak mengajakmu kencan.” tolak Kyuhyun usai berpikir panjang. Ia melihat Songjin tersenyum lebar sambil menjentikkan jemari di udara.

“Bagus kalau begitu.” Songjin terlihat senang. “Aku tidak bisa pergi denganmu nanti malam, temanku Alairé memiliki acara–“

“wow wow wow tunggu dulu nona tunggu dulu.” kepanikan Kyuhyun menginterupsi lagi “jadi maksudmu, kau akan meninggalkan temanmu yang tidak bisa melakukan apa-apa seorang diri ini, menghabiskan malam pergantian tahun sendiri, di kamar hotelnya, dengan layanan room service, dan menonton pesta kembang api dari balkon kamar, diatas kursi roda?”

“Aku tidak berkata begitu.”

“Kau mengatakan itu. Secara teknis.”

Songjin memutar bola matanya, berpikir intens “Jadi apa yang tidak termasuk bagian dari teknis?”

“Tidak ada.” putus Kyuhyun tegas. Ia mengerutkan wajah saat Songjin mendongak menatapnya.

— — — 0 0 — — —

“Jadi, siapa itu Alairé Adams?”

Songjin mendengar Kyuhyun bertanya saat taksi sedang berhenti karena lampu lalu lintas. Perjalanan menuju gedung serba guna universitasnya memerlukan waktu lebih banyak dan tidak mungkin ditempuh dengan berjalan kaki seperti biasanya. Yang Songjin tidak pernah sadari, Kyuhyun sudah menarik napas banyak-banyak sebelum mengatakannya.

Jadi suaranya akan terdengar santai, seolah tak sedang diburu sesuatu meski ia begitu penasaran siapa Alairé, dan apa kemungkinan terburuk atas status hubungan keduanya saat ini.

“un ami.”

“Huh?”

Songjin berhenti berkutat pada ponsel. Ia mengangkat wajah lalu tersenyum pada Kyuhyun sadar Kyuhyun tidak memahami sedikitpun bahasa Perancis. “Seorang teman.” jelas Songjin akhirnya.

Kyuhyun mengangguk-angguk. Berdehem. Memerhatikan jalanan yang mulai penuh dengan manusia, mengingat ini adalah malam pergantian tahun, instingnya begitu tepat ketika berpikir pasti Eiffel dan sekitarnya akan penuh sepenuh pasar malam.

Ia kemudian melirik Songjin lagi. Ia tidak tahu apa yang membuat Songjin sibuk pada ponselnya, namun ia bisa memastikan siapa orang diseberang yang sedang bercakap melalui pesan singkat bersama gadisnya.

“Kau menyukainya?”

“Yeah.” Jawab Songjin sambil tertawa kecil. Pada ponsel tentu saja. “Dia cukup menarik.”

“Menarik? Oh, menarik.” Kyuhyun tampak tak puas pada jawaban menarik. Ia nyaris mendesis sinis namun berhasil disimpan untuk nanti. Kali ini Kyuhyun hanya memberi tanggapan sarkas dengan sebuah gerakan alis sekilas.

“Dari skala satu sampai sepuluh, seberapa menariknya pria ini untukmu?”

“Skala?” Songjin menoleh pada Kyuhyun lagi. Kyuhyun mengangguk kemudian berdeham. Mengigiti bibir, lalu merapikan posisi coat nya yang telah sempurna.

Ia menikmati ekspresi Songjin kala gadis itu berpikir mengenai skala. Kyuhyun tidak mengerti, seharusnya pertanyaan itu bisa dijawab dengan cepat jika itu untuknya. Jawabannya adalah ‘NOL.’ Tetapi mari kita sama sama melihat fakta. Pertanyaan ini untuk Park Songjin, dan kau tahu seberapa mudahnya Park Songjin teralihkan pada lelaki tampan.

Meski Kyuhyun menganggap Alairé ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya tentu saja.

“Delapan.”

“DELAPAN?” Kyuhyun menjerit dan Songjin segera melompat mundur dari tempatnya semula. Gadis itu memegangi dadanya sambil mendelik pada Kyuhyun. Hal yang sama terjadi pada nasib supir taksi mereka. Pria lanjut usia itu melirik Kyuhyun dan Songjin dari spion tengah.

“Yaa! Kenapa berteriak?!”

“Kau berteriak!”

“aku tidak berteriak!” bantah Songjin cepat. Namun sadar bahwa suaranya meninggi, ia langsung terdiam. Meski kesal, ia sedang tak berniat mengulang cerita penuh teriakan bersama pria ini sekarang.

“Delapan itu nilai nyaris sempurna, kau bercanda?”

“Aku terlihat seperti itu?”

Alis Songjin meranjak naik. Tepat pada saat Kyuhyun akan membalas, supir taksi berbicara dengan bahasa yang tak Kyuhyun pahami. Mereka berhenti di sebuah gedung megah berbentuk persegi empat, penuh dinding kaca dan lampu.

Supir taksi itu menurunkan kursi roda dari bagasi. Membantu Kyuhyun duduk diatasnya lalu Songjin berbicara entah apa padanya hingga pria itu tersenyum cerah menepuk pundak Songjin.

“Aku benar-benar tidak tahu kau bisa bahasa Perancis.” gumam Kyuhyun saat kursinya mulai Songjin dorong. Gumamannya tidak mendapat tanggapan hingga tiba di bibir pintu kaca otomatis, Songjin menghentikan dorongannya.

Ia memutar kursi, setengah berjongkok dihadapan Kyuhyun. Songjin bertumpu pada satu lututnya. Ia menarik napas panjang sebelum bicara, seolah akan berpidato panjang. “Kyuhyun-ah” mulainya terlihat canggung.

“Sebelum masuk, aku memiliki beberapa persyaratan dan beberapa hal yang perlu kukatakan.”

“Kau jatuh cinta pada Alairé?” tebak Kyuhyun membatu dikursinya. Namun saat Songjin menggeleng memberi raut wajah ‘pertanyaan macam apa itu?’ padanya, ia mendadak lega.

Rasa lega itu lalu tidak bertahan lama. Ia kembali tegang saat ingat perkataan Siwon beberapa waktu lalu. “Kau–” Ia menelan liurnya susah payah “Hamil?”

“APA? YAA!” Melihat Songjin tiba-tiba mengamuk, anggapannya berarti salah. Ia bisa merasa lega lagi. “Bicara apa kau ini sejak tadi, huh?”

“Aku hanya bertanya.” ujar Kyuhyun tak kalah cepat. “Maaf.”

“Itu tuduhan!”

“Aku tahu. Maaf.” Kyuhyun menonton Songjin lekat ketika gadis itu tampak benar-benar kesal pada pertanyaan, garis miring, tuduhannya. “Jadi apa?”

Songjin mendengus. Melirik Kyuhyun melalui bulu mata bawahnya lama. Ia kesal, Kyuhyun tahu itu. “Aku membencimu.” geramnya membuang napas kasar, kembali setengah berjongkok dihadapan Kyuhyun.

“Aku tidak.” aku mencintaimu. Andai saja itu bisa diucapkan dengan lantang semudah memikirkannya. Tapi hey, semua orang tahu menyatakan cinta tidak semudah memecahkan telur. Jika menyatakan cinta adalah hal mudah, populasi manusia dibumi ini sudah membludak.

“Kau tidak ingin datang ke pesta, dengan laki-laki di kursi roda? kau malu?” kini Kyuhyun bertanya tanpa nada ketus ataupun menuduh. Itu dikeluarkan dari hatinya terdalam. Songjin mungkin malu padanya.

Namun saat melihat Songjin tertawa, lalu gadis itu mencubiti kedua pipinya berkata “kau harus berhenti bicara omong kosong” rasanya Kyuhyun menjadi manusia dengan perasaan paling lega sedunia saat ini.

“Kalau aku malu, aku sudah menolak membawamu pergi sejak tadi di museum. Kau tidak lihat mata teman sekelasku semua tertuju hanya padamu. Kau masih menjadi pusat perhatian meski dibalut kasa dan gips.”

Well, aku tidak bisa mengurangi pesonaku,” tawa Kyuhyun terlontar lepas. “lalu?”

“Lalu,” Songjin seketika gugup. Ia mengigiti bibirnya, sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga “Lalu,” ia juga berpikir keras. Sepertinya itu sangat sangat diperlukannya saat ini untuk mengeluarkan sebuah kalimat saja.

“Aku yakin kau masih akan menjadi pusat perhatian nanti di dalam sana.”

“Mm.”

“Sebagian dari mereka memiliki kemampuan bahasa inggris dan kau bisa berbahsa inggris dengan baik. Sedangkan aku tidak, kau tahu itu.”

“Yeah. Lalu?”

Songjin mengetuk ketukan jari-jarinya diatas punggung tangan Kyuhyun. Ia lalu meremasnya keras “Bisakah, kau” ucapnya menggantung selama beberapa saat. Songjin memberi senyum. Senyum masam dengan lekuk alis menurun.

“Bisakah kau tidak sibuk dengan teman-teman wanitaku saja didalam nanti dan lebih banyak berinteraksi denganku? Maksudku, Mereka pasti akan tertarik padamu, tapi–“

Songjin menimbang-timbang kalimat macam apalagi yang harus dikeluarkanya. Tak menyadari lengkung senyuman Kyuhyun sontak terpasang lebar. Saat Songjin sedang merasa bahwa jantungnya sedang dipompa luar biasa kencang seolah sedang berlari marathon, Kyuhyun malah tertawa lepas begitu bebas.

“Aku mengerti. Park Songjin tidak ingin tersisihkan.” gurau Kyuhyun menghantam Songjin bagai godam. Ia tak tahu bagaimana Kyuhyun dapat memahaminya sebanyak itu. Ia hanya memberi cengiran hampa setelah Kyuhyun menggedikkan bahu.

“Aku juga memiliki persyaratan.” kata Kyuhyun sebelum mengiyakan persyaratan Songjin. Seolah sedang menawari sebuah kesepakatan adil tak hanya untuk Songjin saja namun juga untuknya. Ia merogoh saku coatnya. Mengeluarkan kotak biru beludru.

Songjin segera terkesiap menyadari apa isi kotak tersebut sebelum Kyuhyun membukanya. Maka ketika melihat Songjin saat itu, Kyuhyun hanya mengangguk pelan. “Kau tahu apa isinya.” gumamnya pelan. Memberikan kotak tersebut kepada Songjin dan membukanya.

“Menikah denganku. Tolong, menikahlah denganku saja.”

Songjin terpukau pada cincin putih berbentuk bunga. Dibagian paling tengah, terdapat permata berwarna hijau emerald, yang Songjin ketahui sangat baik, itu milik mendiang ibu Kyuhyun.

Seseorang mengambilnya ketika kecelakaan terjadi. Beranggapan bahwa salah satu dari anak-anak korban ada yang memerlukan uang suatu saat nanti, namun pada akhirnya mereka sama-sama tahu, hanya satu putra Kim Hanna yang tersisa dan itu bukan perempuan, hingga suatu saat Kyuhyun sempat ingin memberikan cincin itu pada wanita yang ia anggap ibu, saat ini, namun wanita itu menolak.

Beranggapan bahwa Kyuhyun bisa memberikan cincin itu kepada calon istrinya nanti. Kyuhyun sempat berpkir akan memberikan cincin itu pada Gyuwon beberapa tahun silam. Ia harus bersyukur ide itu tidak terlaksana. Gadis itu bahkan kini tak terdengar kabarnya. Ia tidak tahu apa Lee Gyuwon masih bernyawa atau tidak.

Siapa peduli?

“Jangan menolak lagi, tolong. Jangan.” pinta Kyuhyun memohon tulus. “Kakiku sudah terkilir dan pergelangan tanganku retak. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika aku gagal lagi kali ini, aku mungkin akan menjedukkan kepalaku ke pintu kaca itu.”

Kyuhyun tertawa getir. Berbeda dengan Songjin yang sudah mengumpulkan tangis di peluk matanya. “Aku memberimu banyak kesempatan untuk berpikir lagi. Tidak ada hal baik yang bisa kau dapatkan jika kau menikah denganku. Bagaimana dengan wanita teman kerjamu, siapa namanya? Mimy? Many?”

“Amy.”

“Amy. Yeah. Amy. Amy Johansson. Benar? Kenapa kau tidak menawarinya saja.”

“Tidak bisa.” tolak Kyuhyun cepat. Ia menyukai Songjin bagaimana bisa ia melamar wanita lain begitu saja?

Begitu yang Kyuhyun pikirkan namun Songjin jelas memiliki anggapan lain. Ia menangis. Bukan jenis tangisan senang tentu saja. “Appa.” angguknya meyakini penilaiannya sendiri begitu cepat. Merger yang selalu digadang-gadangkan oleh ayah mereka sepertinya menjadi lebih serius saja dari hari ke hari.

Songjin terdiam. Mengamati cincin cantik dambaannya. Ia ingin sekali mengenakan cincin itu namun akan terasa sangat menyakitkan pasti dikemudian hati untuknya. Karena ia tahu, ia berjuang seorang diri saja.

Well, kau tidak bisa membuat kapal pesiar mewah tanpa merger.” ujarnya entah dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan. Air matanya mulai muncul satu persatu. Itu akan merusak mascaranya ia tahu, tetapi ia tidak sanggup menahannya lagi untuk saat ini.

“Kau tahu, jika kita melakukan ini, kita akan melakukannya tanpa cinta, Kyuhyun-ah.”

Ada sebagian hati Kyuhyun remuk seketika meski ia tahu, itu adalah fakta dasar ketika ia memaksa Songjin menikah dengannya. Ia berjuang sendiri. Keduanya tak pernah sadar bahwa mereka bisa berjuang bersama-sama. Mereka berkutat pada anggapan mereka masing-masing dan memilih berduka karenanya.

Sangat bodoh.

“Yeah. Tanpa cinta.” Kyuhyun menyetujui separuh hati. Memberi cengiran tolol meski rasanya ia sedang tak ingin melakukannya “Kau yang mungkin perlu mencobanya. Cobalah dulu. Jika menurutmu, hidup denganku adalah hal yang salah, kau boleh pergi.” angguk Kyuhyun cepat berkali-kali.

Mencoba meyakinkan Songjin meski dirinya sendiri tak seberapa yakin sanggup melepaskan gadis itu nanti pada waktunya. Ia mungkin akan membuat hal-hal konyol lagi seperti rencana menikah mereka kali ini, yang tak pernah Songjin ketahui siapa dalangnya.

Ia mungkin akan berpura-pura terserang kanker stadium akhir. Mungkin akan berpura-pura buta. Mungkin akan berpura-pura terkilir, patah kalau perlu, hingga gadis itu akan berpikir ulang untuk meninggalkannya sendiri.

Jika tidak ada cinta, maka hidup berpondasi rasa belas kasian pun tak masalah bagi Kyuhyun nanti. Mungkin. Ia tidak tahu bagaimana kedepan nanti. Mungkin suatu saat ia bisa membuat Songjin jatuh cinta padanya. Atau mungkin tidak.

Mungkin nanti ia tidak secinta ini pada Songjin, dan sanggup membiarkan Songjin pergi dari hidupnya. Mungkin. Tapi untuk saat ini, kemungkinan itu terlihat sangat sangat sangat kecil baginya.

“Kurasa kau yang akan pergi.” desah Songjin mengakhiri keheningan mereka. “Tidak ada yang sanggup berbagi atap denganku. Ibuku berpendapat seperti itu, kurasa itu ada benarnya.” ia lalu menutup kotak cincin itu mengejutkan Kyuhyun sampai ia kemudian berkata, “kalau begitu ayo menikah.”

“Cincin nya?”Begitu polos Kyuhyun bertanya. Mengangkat kotak persegi tersebut ke depan wajahnya.

“Berhubung aku memiliki prinsip untuk menikah satu kali, mungkin kau akan menjadi satu-satunya. Jadi aku ingin kau melakukan apa yang kau lakukan tadi lebih menarik. Apa kau tidak bisa sedikit lebih romantis? Kau sedang melamarku demi Tuhan! Kenapa tidak ada bunga? Kenapa tidak ada kata-kata manis? Kau bisa berbohong mengatakan kau mencintaiku habis-habisan, dan tidak bisa hidup tanpaku. Apapun itu. Aku memberimu waktu sampai pukul dua belas tepat untuk memikirkan kebohongan macam apa yang bisa kau berikan untuk melamarku lagi. Deal?”

126 thoughts on “[KyuJin Series] Worddiction — Abience 2 (END)

  1. ngelamar koq gt. zzzzzzzzzzzzzzzzzz. cho kyuhyun bgt xxxxxxxxxx :3
    cincin’a indah >o< itu patung'a krg vulgar 😛
    songjin bs b.perancis, kyu bs b.inggirs. saling mlengkapi 🙂 cociks bgt lg kyujinple
    Yes! Deal!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! 😀
    ditunggu bgt eon part 3'a 😉

  2. Gemas bnget sma pasangan ini,,
    Knpa mreka harus menyiksa diri sih, cba kyunya mau terus terang sma perasaannya pasti acra melamarnya sangat mengesankn bgi mreka 🙂
    Ternyta songjinya pintar jga bhs prancis, stidaknya ada yg bisa dia bangkan dri kyu 😀

  3. Mereka b2 pada gengsi tingkat tinggi jadi gmess sumpah.
    Cincinnya bagus(0.0)
    Gak nyangka Songjin ternyata pinter juga, jadi bangKyu jgan remehin qaqa Songjin eakk XD
    Dan untuk si wowofu Hyungi! Ini dia cerita perjuangan cinta ke2 ortu kamu, sblum mereka brjuang *ngebuat* kmu *ehh wkwk
    Fighting for the another story author-nim! ^^

  4. Sorry baru bisa comment di abience 2 pas di abience 1 mau komen kemarin wifi nya keburu mati maklum fakir wifi skrng baru ada kuota hehe *curcol
    Dalang perjodohan nya kyu kan?terus dia sendiri yg bilang perjodohan tengik. Ff ini di takdirkan bhwa song jin dan kyuhyun gak bisa di pisahkan atau terpisahkan. Ka knpa songjin suka bgt sama italia?negara kesukaan kyuhyun apa?*abaikan komen gajelas

  5. Ngebayangin mukanya sii cho pas bilang “ini ilegal “aku ngakak haha…
    Imajinasiku bermain liar dengan wajah lugu nan setan kyunnie

  6. duh sumpah gemezzzz bgt kalo baca before story nya kyujin. berasa pengen neriakin dikuping mreka berdua “woy saling suka kenapa sih susah bgt buat ngomong yg sbnrnya isssshhhh” ><

  7. Gara2 kyuhyun nyinggung nama gyuwon, jadi keinget ini kisah kyujin saat gk ada gyuwon, gk ada kabar dan gk berhubungan sama sekali ma kyuhyun or siwon.
    Jadi pengen tau kisah lebih detail saat gyuwon kembali berhubungan ma kyu n won. Apa yang dipikirkan dan dirasakan kyuhyun pas gyuwon balik? Meskipun bilang dia gk peduli ma keadaan gyuwon sekarang.
    Dan yg lebih bikin penasaran, pengen tau lebih detail lagi apa yang dirasain songjin pas tau gyuwon kembali, berhubungan lagi ma dua orang terkasihnya, kyuwon,. Meskipun pas dimissing dah ada gambaranny yg disitu aja udah bikin naik-turun, greget ma kyuwon sampek tengkar gara2 gyuwon. Lebih2 kyuhyun yg…. ah begitulah pokoknya. Bikin kesel setengah mati. Gak peka2 juga ma apa yg dirasain songjin…. ya semoga ada ya kisahnya.. 🙂

    Btw, balik kekisah yg ini… mereka itu sesimple memulai pertengkaran, sesimple pula itu keadaan lebih membaik.
    Gk nyangka kyuhyun pabo banget pek jatoh.. ngakak ngebayangin tampilan kyu. 😀 😀

    Mereka ini udah terlena ma pikiran masing2. Jadi gitu. Kata satunya, berjuang sendiri, kata satunya lagi juga sama. Dan mereka ini bicara tentang perasaan kemasing2. Sama2 gk peka. Padahal orang lain baik orang lama/baru pasti tau klo saling suka satu sama lain. Tapi orangny sendiri gk nyadar2.. heran. Cuma gk peka n gk bisa liat keperasaan masing2.. hmmm.. greget bgt. Tpi klo gk gitu ya bukan kyujin lah. 🙂

    Nah itu songjin setuju nikah. Tapi penasaran. Apa yang tengah dipikirin songjin pas nerima? Apa mungkin berpikir demi orangtua? Atau seenggaknya bisa bareng ma kyuhyun sekalipun kyu gk cinta dia?
    Rada nyes gmn gitu pas songjin bilang, gk bisa apa kyuhyun ngelamar lebih romantis dan seenggakny berbohong bilang cinta bgt gitu ma songjin.. huhuhu….

    Apa pula yg dilakuin kyuhyun? Yakin. Klo yg kyu rasain pasti seneng yg mendominasi. Cz pikiran kyuhyunkan yg positif dibanding songjin. Mungkin aja dia berpikir akan bikin rencana2 agar songjin cinta sama dia dan dia gk terus2an berjuang sendiri..

  8. Joahjoahjoah…
    Jelas ini adalah kesalahpahaman… Songjin brfikir kyuhyun mau menikah dngn’y krna ortu kyuhyun
    so fighting buat author, buat terus bikin ff songjin series yah…

  9. Ternyata ketidakjujuran itu awal munculnya patah hati yg parah ya. Aku yg cuma baca dan bayangin aja bisa pedih sendiri. Apalagi mereka. Yaampun..

  10. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

  11. sumpah demi apapun gemes bangt sma pasangan ini apalagi kyuhyun pengen di jitak supaya blang ke songjin bulang cinta aja ssah bangt..

    klo songjin kan namanya cwek pastinya gengsi dan jga sikap kyuhyun yg kyk bunglon jdi bkin songjinnya negatif mulu..

    penasaran sma visual wajahnya Alairé Adams klo ada fotonya lebih keren lagi..

  12. makin kesini makin seru aja, mereka sm2 mencintai dalam diam dan gak ada yg mau jujur….. kyuhyun koyol banget ms nuduh songjin hamil wkwk…..

  13. Pingback: Rekomendasi Fanfiction Part 2 | evilkyu0203

  14. Tanpa cinta apanya?? Sama2 pada cinta mati gitu kok. Salahnya sendiri gak ada yang berani ngungkapin perasaannya masing2. Sampai nikah 3 taun baru kebongkar. Gregetan banget ma mereka. Kyu pabo kenapa ngelamarnya asal2an gitu, konyolnya songjin ngasih waktu buat kyu harus nglamar dengan romantis. Hhh

  15. sma2 cinta tpi kok ribet ya. mrk tkt ngerusak persahabtan. padahl pny rasa yg sama. kadang sikap kyu jg sih ambigu gt.

  16. aku sukaa banget sama songjin yang pra nikah, kesannya dia punya dunia sendiri dan ga ngandelin kyuhyun terus yang sibuk kerja di perusahaan. Songjinnie juga bisa bahasa perancis (y) point pluss pluss buat dia :v bahkan kyuhyun maksa banget buat songjin nerima lamarannya dia :v

  17. Kaku banget bang ngaku aja kenapa. Ini mah dua duanya pada pesimis gak saling cinta kkkkk giliran ketahuan ntar pasti abis2an love love nya gumush banget lah tapi kurang romantis juga ukuran Kyu kalau ngelamar cuma gitu aja tanpa bunga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s