[KyuJin Series] 10 Reasons To Love You (Park Songjin) — 5


10 Reasons to Love You

(Park Songjin)

Park Songjin | Cho Kyuhyun |

 

9. Lifesaver

“Mereka belum melakukannya! Mereka belum melakukannya ya ampun tiga pekan menikah dan kau masih saja belum menyentuhnya! Kau tidak normal Cho! Kau benar-benar bukan lelaki normal!”

When it comes to woman, he got no balls.”

Songjin mendengar banyak cemoohan itu dari ponselnya ketika dirinya dan Kyuhyun sedang melakukan sebuah sambungan telepon. Dia cukup mengenal beberapa suara tadi. Salah satunya, adalah suara ayah pria itu sendiri.

Songjin mendengar Kyuhyun menghela napasnya panjang dan lelah sebelum menjawab sapaannya datar.

“Apa yang kau lakukan bersama ayahku disana?”

Makan siang? Bekerja?

“Di restoran?”

Kau tidak tahu seberapa penting makan siang dalam rutinitas pebisnis?”

“Kau tidak menikmatinya. Kenapa tidak pulang saja dan makan siang bersamaku?”

“Aku harus melakukannya. Ini pekerjaanku, kau tahu?!”

Kyuhyun mendapati dengusan Songjin membalas pertanyaannya cukup kencang. Harus diakuinya. Ia memang tidak menikmati makan siang kali ini, terlebih pada topic pembicaraan yang selalu didapatkannya tiap kali makan siang berlangsung bersama ayahnya, atau ayah Songjin.

Itulah mengapa Kyuhyun lebih sering pulang kerumah ketika jam makan siang tiba, dan kembali ke kantor beberapa jam setelah itu. Atau ia bisa menghubungi Songjin untuk membeli beberapa porsi makanan, lalu Songjin akan membawa ke ruang kerjanya.

Tetapi siang ini ayahnya lebih dulu memaksanya untuk ikut dalam makan siang bersama sebelum Kyuhyun sempat menjelaskan bahwa ia akan pulang untuk makan siang dirumah saja.

Jadilah sekarang, ia terjebak pada percakapan ‘Apakah Park Songjin masih perawan’ hingga kejujuran itu terkuak, Kyuhyun mendadak merasa tersudutkan. Dari seberang Songjin mendengar ayahnya berkata “padahal aku ingin sekali menimang cucu.”

“Kyuhyun-ah, kau berhutang budi padaku setelah ini.”

“Maksudmu?”

Nyalakan speaker.”

“Huh?”

“Dan berikan ponselmu pada ayahku.”

“Apa?”

“Lakukan saja. Sekarang!”

Kyuhyun mengerjabkan mata heran tetapi lantas melakukan apa yang Songjin pinta. Ia dengan sopan memotong percakapan antara Park Seul Gi bersama Ayahnya dan beberapa kolega mereka.

“Songjin.” bisiknya canggung berusaha bersuara sepelan mungkin namun dari ponselnya, suara Songjin terdengar sebaliknya.

“APPA! kenapa kau membawa Kyuhyun pergi makan siang bersamamu? Kami selalu makan siang bersama!!”

“Ap–“ Park Seul Gi terkejut. Matanya berkedipan cepat memandangi Kyuhyun namun Kyuhyun menggelengkan kepala memasang raut wajah bahwa ia tak tahu apapun.

Pada kenyataannya, ia memang tidak tahu apapun rencana Songjin.

“Aku tidak mem–“ Seul Gi bertolak melirik Choi Ki Ho. seisi meja makan panjang tersebut mendadak hening. “Ada apa sayang?” Ayah Kyuhyun mencondongkan wajah ke tengah meja dimana ponsel Kyuhyun berada.

“Abeoji, aku ingin makan siang! aku sudah menyiapkan segala menu diatas meja makanku tapi Kyuhyun tidak datang sejak tadi. Sekarang soup sapiku dingin! Kukira sesuatu terjadi padanya. Aku menunggunya panic sendirian. Dia bahkan tidak bisa memberi kabar padaku, ternyata dia pergi bersama kalian. Kalian keterlaluan!”

“Aku? Kenapa aku? T–tap– tapi aku–“

“Sekarang apa boleh Kyuhyun pulang? kami harus pergi ke dokter.”

“Dokter?”

“Dokter?”

“Dokter?”

Choi Ki Ho, Park Seul Gi bersama Siwon segera menyahut satu persatu sili berganti. Cepat juga panic. “Kau sakit Songjin? Sesuatu terjadi padamu?” Siwon berhenti menyedot limunnya untuk focus sejenak pada pendengarannya.

“Sesuatu jelas akan terjadi padaku jika kalian masih memaksa Kyuhyun berada disana dan membatalkan janji kami dengan dokter kandunganku.”

“Dokter kandungan?”

Park Seul Gi sontak mengangkat wajah menatap Kyuhyun dengan mata terpicing tajam seolah-olah siap menelan Kyuhyun dalam satu kunyahan saja. “Kau–“ pria itu menelan ludah susah payah “kau hamil?”

“Aku? Hamil? Tentu saja tidak!” bentak Songjin kencang. Ia terdengar sangat kesal. Sepertinya diseberang ia mengatakannya sambil melompat-lompat seperti kelinci atau apa. Kyuhyun bisa membayangkannya jelas. Ia tersenyum dalam tundukan, nyaris tertawa namun tak ingin mengacaukan apa yang sedang terjadi.

Satu-satunya orang yang paham bahwa ini hanyalah sebuah omong-kosong adalah Siwon. Mereka hanya saling berpandangan tanpa mengatakan sepatah katapun namun sarat akan makna.

“Tapi itu akan terjadi jika aku tidak memasang alat pencengah apalah itu namanya. Aku tidak bisa membawa-bawa tubuh yang bengkak ke kampus, itu akan terlihat sangat aneh, jadi tolong biarkan Kyuhyun pergi sekarang juga. Bisakah itu?”

“Ya.” sahut Choi Ki Ho cepat. Melirik sesekali pada Kyuhyun heran. “Ya, Kyuhyun mu boleh pulang sekarang juga. Dia akan pulang Songjin. Dia pulang sekarang.” pria itu memukul-pukul lengan Kyuhyun agar menjauh dari dirinya dan meja makan segera.

“Bagus. Terimakasih banyak.”

Dan sambungan telepon terputus. Seluruh meja makan masih hening tanpa kata. Kyuhyun memanfaatkan keadaan tersebut untuk memungut ponselnya, lalu memasukan ke dalam saku celana.

Ia tersenyum canggung pada satu persatu orang disekitarnya, namun senyuman canggung itu lenyap saat matanya berseborok dengan mata ayah Songjin. “Kuantar kau keluar.” ucapnya dingin. Mendadak aura gurauan tadi lenyap entah kemana.

“Apa yang kau pikirkan Kyuhyun-ah! Songjin belum lulus!” Tanya Park Seul Gi sembari menunggu mobil Kyuhyun diantar menuju lobby oleh seorang valet parking.

“Tapi delapan bulan lagi dia akan. Jadi kurasa itu bukan masalah besar!”

“Itu jelas masalah besar!”

“Abeoji, kau sendiri yang mengatakan ingin segera menimang cucu. Dimana letak kesalahanku?!”

“Kau berjanji tidak akan melakukannya sampai Songjin lulus! Apa yang kau pikirkan sebenarnya?”

“Cinta.”

Pria separuh baya itu mendelik jengkel pada Kyuhyun. Ingin meremas-remas wajah tampan disana tetapi Kyuhyun tidak pulang saat jam makan siang saja putrinya sudah memarahinya habis-habisan. Bagaimana jika Kyuhyun pulang dengan wajah babak belur?

Park Seul Gi terus berpikir hingga sedan biru metallic berhenti dihadapannya dan Kyuhyun memberi tip bagi pertugas lobby tersebut. “Kyuhyun-ah!”

“Yeah, abeoji?”

“Aku tidak bisa melarangmu melakukannya. Benar kan?”

“Tepat sekali.” Senyum Kyuhyun terpasang semringah. “Aku laki-laki normal. Aku tidak bisa merasa baik-baik saja setiap malam harus tidur bersama gadis dengan tubuh yang– kau tahu sendiri seperti apa tubuh putrimu.”

Seul Gi mendengus lebih kencang lagi membuat Kyuhyun merasa senang dan lucu disaat bersamaan. “Setidaknya gunakan pengaman.”

Kyuhyun mengangguk beberapa kali “Itu juga yang tadi Songjin inginkan, kau mendengarnya sendiri.” ucapnya berjalan mendekat pada mobilnya, lalu masuk kedalamnya.

“Tapi aku juga sama sepertimu. Kurasa, aku juga ingin tahu rasanya menggendong bayiku sendiri, abeoji, bukankah itu terdengar menyenangkan?”

“Apa? Yaa! Tap– tapi kau,”

“Kalau begitu, sampai jumpa, lusa?”

“Cho Kyuhyun!”

“Semua akan baik-baik saja abeoji. Tenang saja!”

kekehan Kyuhyun kencang terdengar. Lantas mengisi seluruh ruangan di dalam mobilnya. Ia masih tertawa saat menghubungi Songjin menggunakan handsfree,

“Apa itu berhasil?”

“Yeah.” angguk Kyuhyun senang. Melirik keberadaan Park Seul Gi dari spion tengah mobilnya. laki-laki itu masih saja terdiam ditempat terakhir mereka menunggu tadi. “Kau menyelamatkan hidupku dari tuduhan impotensi dini.”

“Sudah kukatakan, kau akan berhutang budi padaku.”

“Aku tahu.”

“Aku ingin black credit card selama satu pekan.” Todong Songjin serta merta namun Kyuhyun menggeleng cepat menolaknya sambil mengemudi.

“Bagaimana jika kita menonton beberapa film terbaru malam nanti?”

“Di luar?”

“Yeah.”

“Dan makan malam?”

“Itu bisa diatur.”

Okay.
“Deal?”

DEAL!” Sorak Songjin kencang sekencang-kencangnya. “Kyuhyun-ah, apa ini semacam kencan?”

Sontak Kyuhyun tertegun ditengah rasa senang membludaknya. “kencan?” ulangnya pelan setelah berdehem membersihkan tenggorokan. “Tidak. kurasa tidak.” jawabnya segera. Merasa lebih gugup dibanding menghadapi tuduhan impotensi dini tadi di tengah meja makan.

Kyuhyun berdehem lagi, “Kenapa–” suaranya tersendat “Kenapa kau tiba-tiba membicarakan kencan? Apa kau ingin kita benar-benar berkencan Songjin?”

 


10. Her Body

“Jadi, aku hanya perlu memesukan bola ini, kedalam lubang disana?”

Tanya Songjin menyipitkan mata mencoba memerhatikan sebuah lubang terdekat darinya. Ditangannya ia meremas stick golf kuat. “Itu bukan pekerjaan sulit, kurasa. Hanya memasukan bola ke dalam lubang. Apa kegiatan seperti ini yang kalian lakukan setiap akhir pekan? bukankan ini membosankan?”

Gadis itu terus menerus berceloteh mengenai betapa mudah sistematis permainan golf, dan tak menyadari seperti apa Kyuhyun merasa tersiksa kali ini.

Bukan apa-apa, hanya saja pakaian Songjin kali ini, benar-benar akan menaikan birahi lelaki, siapapun yang melihat kaki semulus itu. Atau sepasang paha sekencang itu. Atau lekuk pinggang seramping itu. Atau, bentuk dada sesempurna itu.

Songjin sendiri sepertinya tidak memedulikan puluhan pasang mata yang terang-terangan melirik padanya. Terang-terangan berusaha mengintip sekecil apapun celah tersebut. Jelas-jelas mengamati dengan riang gembira saat ia berjalan kesana kemari, lalu rok mini keparat itu menari-nari halus mengikuti gerak tubuh pemakainya.

Bukan rahasia lagi jika Park Songjin memiliki tubuh menarik. Itu telah diketahui Kyuhyun bahkan sebelum ia memasuki team football dengan nyaris seluruh anggota di dalamnya secara terbuka menyatakan ketertarikan mereka pada lekuk tubuh Songjin.

Dikala itu Kyuhyun harus mati-matian menahan amarahnya pada komentar tak berbobot semacam itu tiap kali ia kedapatan bersama Songjin, atau gadis itu yang tiba-tiba datang menemuinya, lalu seluruh cengiran mesun terpasang di wajah tiap kepala.

Kini hal semacam itu terulang kembali. Semestinya Kyuhyun tahu. Ia tak seharusnya mengajak Songjin ikut dalam permainan golf rutin bersama ayah gadis itu. Seharusnya permainan ini hanya untuk dimainkan oleh para lelaki saja.

“Kyuhyun-ah! arah pukul tiga!” bisik Songjin pelan. dua orang itu lalu menoleh pada arah berbeda segera setelahnya. “wanita itu benar-benar tertarik padamu, kau tahu?” ia masih membisikan hal tersebut meski matanya kini tak menangkap sosok wanita berpakaian ketat, mini dan memiliki dada sangat besar tersebut.

“Bagaimana kau tahu?”

“Dia terus menerus menoleh ke arah kita.”

“Jadi karena itu kau pikir dia tertarik padaku?”

“Hmm.”

“Kau terdengar sangat yakin.”

Sonjin sontak menolehkan wajah pada Kyuhyun “Aku wanita!” ia separuh membentak. “Aku tahu.” yakinnya kemudian memberi senyuman tipis tak terbaca Kyuhyun.

Kyuhyun terdiam beberapa saat mengamati seperti apa Songjin membalas pandangan wanita tersebut dengan banyak sekali lirikan tajam bertubi-tubi. “Kau lihat, arah pukul enam.” ia balas berbisik.

“Deretan laki-laki itu sengaja duduk menghadap kemari agar bisa melihat apa yang mereka ingin lihat.” terang Kyuhyun. Saat Songjin akan menanyakan pertanyaan lain, matanya segera menjawab. Seolah sadar apa pertanyaan Songjin selanjutnya.

Mata Kyuhyun menelurusi lekuk tubuh Songjin. Sadar bahwa ia sejak tadi mencoba untuk tidak benar-benar memerhatikannya, namun kali ini ia malah terang-terangan memandangi secara leluasa.

Kyuhyum mengembuskan napas berat. Mendadak merasa pasrah entah pada apa. Ia membenarkan letak topi Songjin yang miring, kemudian memeluk gadis itu secara tiba-tiba.

Aroma manis buah adalah hal pertama yang menghantam indera penciuman Kyuhyun. Aroma manis tersebut sanggup menghikangkan kesadarannya sesegera mungkin, jika saja ia tidak menyadari bahwa karena memeluk Songjin, ia bisa merasakan lekuk tubuh gadis itu secara rakus.

Dada kencang Songjin menempel didadanya. Ia bisa merasakan itu lebih jauh lagi jika ia mekan tubuh gadis itu lebih kuat. Mencoba menyingkirkan pikiran kotor tadi, Kyuhyun mengalihkan dengan menggerakkan tangan kirinya mengusap punggung Songjin.

Tetapi sepertinya itu adalah pilihan salah lainnya. Setelah ia bisa merasakan dada Songjin, kini lekuk punggung, sampai pada pangkal bokong Songjin dapat dirasakannya. Jika ia mendorong lebih kencang bagian tersebut, maka miliknya akan berbenturan dengan kau tahu apa– saat ini juga.

Meski seperti itu, toh tak seberapa lama, ia tetap melakukannya. Memberi decak kecewa pada satu kumpulan lelaki yang sepertinya sengaja melewati mereka pada saat itu. Dan memberi kepuasan lain padanya, meski tidak benar-benar menyentuh tubuh Songjin.

“Kau merasakannya?” suara Songin terdengar bagai desahan ketika sampai ditelinga Kyuhyun. Ia mulai membayangkan kejadian-kejadian kotor, namun menyenangkan ketika mereka bergumul, dan sejurus itu, ia hanya memberi anggukan lemas untuk menjawab.

“hmm.” angguknya. “aku menginginkannya.”

“Aku juga!” pekik Songjin ceria mengejutkan Kyuhyun bahwa tawarannya, mendapatkan tanggapan sesuai. “Benarkah?”

“Yeah.”

“Tapi aku ingin sekarang juga.”

“Mana bisa begitu? Aku juga ingin, tapi kita harus menunggu ‘kan?”

“Kurasa tidak.”

“Tidak?” Kening Songjin berkerutan.

“Kita harus mencari tempat.”

“– Yeah, cepat atau lambat itu memang harus dilakukan.”

“Kau tahu dimana?”

Songjin menggeleng cepat. Memerhatikan wajah kebingungan Kyuhyun serta keringat yang tiap detiknya semakin terlihat banyak. “Belum. Kau tahu dimana?”

Kyuhyun mengitari bangunan serta lapangan hijau disekitarnya menggunakan kedua matanya. “Toilet?”

“Toilet? yang benar saja! kau ingin aku melakukannya disana! kau sakit jiwa! itu tidak akan nyaman!”

Kyuhyun mengangguk membenarkan lalu memutar pandang lagi, “mobil?”

“Mobil?!” Suara Songjin meninggi menyadarkan Kyuhyun bahwa itu juga pilihan tempat yang salah.

“– lorong?”

“Lorong??!!” Songjin semakin mendelik terkejut melompat mundur, menjauh dari Kyuhyun. Ia memeriksa lelaki itu seperti scanner melalui matanya, sadar kemudian ada perbedaan arti mendalam dari kalimat-kalimat yang mereka kemukakan sedari tadi.

“Apa yang kau maksud sejak tadi?”

“Seks! memangnya apa yang kau maksud sejak tadi?”

“MELAHIRKAN KYUHYUN-AH! TEMPAT MELAHIRKAN!” bentak Songjin kencang tak tanggung-tanggung mengejutkan Kyuhyun berpuluh kali lipat daripada gadis itu sendiri. “MESUM!”

102 thoughts on “[KyuJin Series] 10 Reasons To Love You (Park Songjin) — 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s